10/31/2016

Hidup Oleh Firman, Hari Alkitab dan Reformasi Gereja, MTPJ 31 Oktober 2016

GoInspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat
GoInspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat


MTPJ 31 Oktober 2016
Bahan Alkitab : Yehezkiel 3 : 1 – 15


TEMA : “Hidup Oleh Firman”

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, pada bulan Oktober, tepatnya tanggal 31 Oktober, gereja mengingat dan memperingati peristiwa penting dalam sejarah gereja yang disebut Hari Reformasi Gereja. Reformasi gereja merupakan sebuah upaya perbaikan tatanan kehidupan yang didominasi oleh otokrasi gereja yang menyimpang. Reformasi gereja adalah sebuah perbaikan untuk kembali pada ajaran yang lurus merupakan cikal bakal atau tonggak awal berdirinya gerakan protestanisme atau gerakan “reform”. Sehingga lalu dikenal istilah “reformasi protestan” yang merupakan gerakan reformasi umat Kristiani Eropa, menjadikan protestanisme sebuah aliran tersendiri dalam Agama Kristen. Seja-rah gerakan ini bermula pada tahun 1517 tatkala Martin Luther mempublikasikan 95 (Sembilan Puluh Lima) Tesis, dan berakhir pada tahun 1648 dengan perjanjian Westphalia yang meredakan perang agama di Eropa. Doktrin teologis Martin Luther melahirkan 3 (tiga) slogan, yaitu:

  1. Ajaran tentang justifikasi (pembenaran) yang radikal atas manu-sia melalui “Sola Fide” artinya pembenaran hanya oleh iman, maksudnya hanya iman yang menyelamatkan manusia.
  2. Keselamatan mutlak hanya berasal dari Allah yang diberikan melalui Yesus Kristus dan itu hanya karena anugerah-Nya- “Sola Gratia”.
  3. Hanya Alkitab sajalah otoritas yang manusia butuhkan. “Sola Scriptura” artinya hanya Alkitab, maksudnya Alkitab yang merupakan asas tunggal tanpa ada yang lain dalam kehidupan bergereja, antaranya berisi semua kebenaran yang diwahyukan Allah. Alkitab memberikan Gereja kepastian tentang suatu kebe-naran Ilahi.


Salah satu reformator gereja yaitu Yohanis Calvin menegaskan sehubungan dengan slogan ke tiga bahwa sumber satu-satunya dan terlengkap dari iman kepercayaan kita sebagai orang Kristen adalah Alkitab, tidak ada sumber pelengkap lain, semisal tradisi. Oleh karena historikal ini menjadi dasar gereja merayakan Hari Alkitab. Perayaan Hari Alkitab adalah momentum untuk kita menjadikan Firman Tuhan sebagai bagian hidup kita sehari-hari. Dunia pun merayakan Hari Alkitab tersebut, yang disebut Hari Alkitab Internasional – “International Day of The Bible”.

Hari Alkitab mengajak kita sebagai orang percaya untuk merayakan Firman Tuhan sebagai kebutuhan pokok harian, dengan membaca Alkitab dan merenungkannya. Bahkan gereja kita menganjurkan selain bacaan Alkitab yang diambil dari 1 (satu) sampai beberapa ayat perikop bacaan minggu berjalan, seperti dalam buku Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat (MTPJ) lalu dibaca dan direnungkan sehari-hari seperti termuat dalam buku Renungan Harian Keluarga (RHK), juga gereja kita dalam RHK menambahkan satu kolom berupa anjuran bacaan Alkitab harian yang diambil dari “Bacaan Alkitab Setahun”. Ada juga referensi lain seperti “Alkitab 365 Hari”, atau mengakses di “Christian Online Daily Bread”, www.blueletterbible.org, dll.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, pembacaan Alkitab kita saat ini Yehezkiel 3:1-15 mengkisahkan pemanggilan nabi oleh Tuhan, yang tidak dapat dipisahkan dari pasal sebelumnya yaitu pasal 2:1-10. Yehezkiel bin Busi diutus ke orang-orang buangan yang di tepi sungai Kebar di Tel-Abib. Yehezkiel merupakan salah satu tokoh reformator umat pada waktu itu, dengan kata lain pemanggilannya ini adalah menuju reformasi bagi umat Istrael, dari umat yang “berkepala batu, bertegar hati, memberontak, melawan dan durhaka kepada Tuhan Allah sehingga murka Tuhan menimpa mereka” menjadi umat yang “dibaharui, yang hidup menurut segala ketetapan dan peraturan Tuhan dengan setia”. Dalam pemanggilan dan penugasan Yehezkiel Allah memberikan sejumlah petunjuk tentang apa yang tersedia untuk dia sebagai nabi bagi bangsa Istrael.

Sikap yang dituntut dari Yehezkiel, yang sekaligus juga menjadi refleksi sikap bagi kita sebagai Pendeta/Penatua/Syamas/Guru Agama bahkan juga jemaat, karena pada dasarnya kita semua sebagai orang percaya dipanggil dan diutus Tuhan untuk menjadi saksi-Nya bagi bangsa kita, yaitu:

  1. Siap dan sigap, yang menandakan ketaatan yang tidak hanya emosional namun ketaatan yang cerdas, ketaatan secara total.
  2. Mesti melaksanakan tugas dengan setia.
  3. Menggantungkan diri pada kuasa Roh untuk melaksanakan pelayanan.
  4. Mengandalkan kekuatan Ilahi untuk mewartakan firman-Nya, walaupun isinya bertentangan dengan pengharapan bangsa/ umat-Nya.
  5. Tetap dalam keyakinan bahwa Allah besertanya, meskipun ada perasaan yang mengganggu kedamaian hati. Bahwa dalam melaksanakan tugas dan panggilan Yehezkiel dan kita tidak sendirian.

Jemaat Tuhan, biasanya dalam seremoni pengutusan yang dilaksanakan oleh gereja kita dalam ibadah jemaat lewat liturgi pengutusan Pendeta/Guru Agama/Tenaga Utusan Gereja (TUG) dan lain-lain ada beberapa kalimat redaksional sebagai ungkapan pengutusan. Begitu juga serimoni pengutusan Yehezkiel oleh Tuhan Allah, ada 3 kata kunci yang diungkapkan yaitu: “makanlah…, pergilah…, bicaralah…”.

Makan kata yang familiar dengan manusia. Setiap hari biasa-nya kita makan 3 kali, ditambah lagi “ngemil snack”. Sehingga banyak tanyangan acara televisi maupun tawaran menu di majalah diberikan. Istilah yang keren saat ini adalah “kuliner” yang menya-jikan baik makanan siap saji (fast food) maupun makanan yang dimasak dari awal seperti “ragey”, dll. Sehingga melahirkan ber-bagai rumah makan/restoran/cafe dari yang murah meriah sampai yang mahal, dari warung makan sampai “foodcourt”, dari ma-kanan yang rasanya manis namun ada juga yang rasanya pahit, dari makanan yang menurut lidah kita orang Minahasa bisa “maso di gergantang” sampai yang “rasa tanah goyang” (alias “nyanda ta telang”). Tapi ini makanan jasmani. Yang Tuhan Allah suruh Yehezkiel makan adalah gulungan berisi Sabda dan penghukuman Allah bagi umat. Maksudnya supaya ia mencerna firman yang Tuhan berikan menjadi miliknya, supaya firman mendarah daging padanya. Dengan memakan gulungan kitab itu Yehezkiel melam-bangkan bahwa dia harus menerima berita Allah tersebut dan menyerahkan diri kepada-Nya sebelum memberitakan firman itu kepada umat-Nya. Yehezkiel harus memakan gulungan kitab ter-sebut, ia merasakan bahwa makanan Firman Tuhan itu manis se-perti “madu dalam mulutnya”. Sekalipun Yehezkiel harus mem-bawa berita kebinasaan, berita duka dan ratapan, Allah menjadi-kannya semanis madu bagi sang nabi.

Jika ada keluarga dekat kita yang meninggal, untuk memberi-tahukan pada anak/saudara dekat yang meninggal, bila kita disuruh keluarga membawa berita duka ini, apalagi anak/keluarga yang kita tujuh ada di rumah sakit, kadang kita bingung atau gelisah mau mulai dari mana untuk mengatakan bahwa saudaranya: opa/oma/ papa/mama atau saudaranya telah meninggal dunia. Karena kita diutus untuk menyampaikan berita duka, yang pasti akan ada derai air mata, ada ratapan. Perasaan yang sama dialami oleh Yehezkiel ketika Tuhan Allah mengutus dia untuk membawa berita buruk berupa penghukuman bagi umat Istrael. Hal yang lumrah dan ma-nusiawi dirasakan Yehezkiel merespon suruhan Tuhan ini. Karena ia diutus untuk membawa berita kebinasaan dan ratapan bagi sesama bangsanya. Perasaannya dibahasakan dalam pembacaan Alkitab kita saat ini dengan kata “panas hati”, “perasaan pahit” menjadi gejolak rasa di kalbu. Ia sangat sedih karena musibah yang akan datang yang harus diumumkannya atas perintah Allah. Walau pun sangat gelisah, ia tetap setia kepada panggilannya itu.

Sudahkah kita setia memenuhi tugas perintah Tuhan untuk memberitakan firman Tuhan di mana saja kita berada dan dalam setiap tugas dan pekerjaan kita serta pada kondisi terpuruk sekalipun?

Bisa saja ada perasaan yang berkecamuk untuk menolak mengejahwantahkan firman Tuhan oleh karena berbagai kepen-tingan, mengejar jabatan, menggapai prestasi, menghalalkan segala cara demi mewujudkan maksud dan rencana kita, meski hal itu bertentangan dengan Firman Tuhan. Sehingga kita alpa atau lupa diri untuk mentaati Firman Tuhan. Jika sudah demikian kita perlu mereformasi diri. Seperti slogan gereja yang lahir dari buah refor-masi yaitu “Semper Reformata, Semper Reformanda” – diperba-harui untuk memperbaharui. Peristiwa historis yang kita peringati sebagai “Hari Reformasi Gereja” memunculkan bagi kita sebagai warga gereja suatu refleksi teologis: “Ecclesia Semper Reformanda” – Gereja selalui diperbaharui. Motto ini bisa kita jadikan falsafah hidup sebagai warga gereja yang sadar akan pembaharuan hidup. Yang hidup oleh, demi dan untuk Firman Tuhan. Pembaharuan hidup oleh Firman adalah penyerahan hidup untuk dibentuk oleh Tuhan, baik sifat, karakter, cara, sikap dan perilaku hidup. Jika kita membangun karakter hidup oleh Firman, maka Firman tidak akan terasa pahit, tetapi terasa manis madu, sehingga kita “doyan” mengkonsumsi Firman, lewat membaca Alkitab setiap hari dan merenungkan serta mengaplikasikan firman itu, buatlah firman menjadi candu hidup. Sebab manusia hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Seperti Yehezkiel yang Allah proses pemanggilannya dengan firman-Nya, demikian juga kita memberi diri agar Allah turun tangan memproses kehdupan kita, agar kita mampu berdiri teguh meski diterpah berbagai masalah, tantangan dan cobaan hidup. Memberi hidup dan diri kita dibentuk oleh Firman adalah bukti kerendahan kita yang mengakui kemaha-kuasaan Tuhan atas peri kehidupan kita. Kita akan mampu bertahan walau badai menghadang kehidupan ini. Hidup oleh firman menjadikan kita warga gereja yang taat dan beriman, hal ini akan nampak dalam kualitas hidup berupa kecerdasan mengolah emosional dan ego diri, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Amin.



Source: MTPJ Sinode GMIM 2016


EmoticonEmoticon