10/09/2016

Kehormatan dan Kekayaan Bukan Diukur dari Materi

GoInspirit-Renungan Harian Keluarga
GoInspirit-Renungan Harian Keluarga

RHK Minggu, 9 Oktober 2016
Yesaya 22:15-16

Ukuran sebuah kehormatan dan kekayaan sering menjebak manusia pada hal yang bersifat materi, sehingga tidak sedikit manusia berlomba-lomba mencari materi dengan berbagai cara. Yang sangat menyimpang adalah manusia merasa ada kepuasan diri bila memperlihatkan atau memamerkan kekayaan kepada orang lain. Sebut saja fenomena yang terjadi tahun lalu "batu akik"  seseorang merasa lain bila menggunakannya, tetapi orang lain yang melihat sebenarnya hal biasa, apalagi itu hanya sebuah batu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Begitupun kecenderungan manusia yang suka mengukur, misalnya membangun batu nisan kuburan sebagai kepuasan untuk memperlihatkan seseorang terhormat dan kaya, padahal batu nisan kuburan tetap batu bahkan dialamnya bau busuk.

Sebna yang adalah kepala istana dalam pembacaan Firman Tuhan ini memperlihatkan sikap memamerkan kekayaannya dengan membangun kuburan mewah diatas bukit untuk dirinya selagi dia hidup. Sikap ini ditolak Tuhan dengan keras ketika nabi Yesaya yang memiliki keberanian menegur pejabat istana membangun kemewahan dan kehormatan diatas penderitaan orang lain. Gereja dan orang percaya sering terjebak memamerkan diri kita dengan berbagai perhiasan dan pakaian mewah (Materi) sementara keadaan dalam diri kia sendiri sulit dibenahi. Padahal yang harus diperlihatkan adalah sesuatu yang dari dalam yakni: kerendahan diri, kesederhanaan, sifat memaafkan, sikap kasih. 

Tuhan menentang sikap memperkaya diri dan apalagi didapatnya dari mencuri, menipu atau merampas hak orang lain, korupsi dengan memanfaatkan kewenangan, kekuasaan dan kedudukan untuk memperkaya diri. Amin.

Doa: Ya Tuhan berilah kami hati yang rendah dan ajarilah kami selalu untuk dapat menahan diri dari godaan godaan materi.
Amin.





Source: RHK Sinode GMIM 2016


EmoticonEmoticon