12/18/2016

Menyambut Yesus Dengan Kasih Persaudaraan, Tema Mingguan MTPJ 18-24 Desember 2016

GoInspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat
GoInspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat

MTPJ 18-24 Desember 2016
Bahan Alkitab : Lukas 1:39-45

TEMA BULANAN : 
“Yesus Datang Menghadirkan Kedamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan”
TEMA MINGGUAN : 
“Menyambut Yesus Dengan Kasih Persaudaraan”


ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pada dasarnya manusia selalu suka untuk hidup dalam perdamaian, ketentraman, yang ditandai oleh relasi yang saling menghormati antar orang, antar kelompok masyarakat, antar bangsa dan sebagainya. Tapi dalam berbagai tingkatannya, perdamaian sulit terjadi karena adanya perbedaan pendapat, sikap atau kepentingan yang tidak ditangani dengan baik sehingga terjadi perselisihan atau konflik. Konflik berkepanjangan dapat menyuburkan kebencian dan dendam sehingga terciptalah tembok pemisah yang membuat manusia sulit untuk bertemu, berdialog, demi mencari solusi bersama atas suatu masalah. Di tengah keadaan ini, nilai kasih persaudaraan menjadi kebutuhan bersama.

Dihubungkan dengan peringatan masa Advent, kasih persaudaraan kerap menjadi semangat spiritual di masa ini, khususnya ketika dikaitkan dengan persiapan untuk mem-peringati Natal Yesus Kristus. Di sini kita mensyukuri kasih persaudaran di antara manusia yang bersumber dari kasih Allah yang datang melawat dunia melalui Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Sebagaimana Allah yang mencurahkan kasih-Nya kepada kita, maka kita perlu menyambut kedatangan Kristus dengan nilai dan semangat kasih persaudaraan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Pada bagian Lukas 1:39-45 diangkat pertemuan Maria dan Elisabet, dua orang perempuan yang sedang menjalani masa kehamilan dan memiliki hubungan darah sebagai sepupu. Elisabet adalah isteri dari Zakaria, seorang imam yang bertugas di bait suci. Keduanya hidup benar di hadapan Allah, dan mendapat karunia besar, sebab di usia yang sudah tua diperkenankan memperoleh seorang anak. Anak ini dijanjikan akan menjadi seorang yang besar. Sedangkan Maria, seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf, dan melalui malaikat Gabriel telah diberitahukan akan mengandung dari Roh Kudus. Anak yang akan dilahirkan Maria dan dinamai Yesus, selanjutnya disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.

Terpisah oleh tempat tinggal yang berbeda, suatu waktu kemudian, Maria bermaksud mengunjungi Elisabet. Inilah suatu kunjungan persaudaraan yang bertujuan mengeratkan kembali hubungan yang saling memperhatikan satu sama lain. Tetapi kunjungan kali ini tentu istimewa, karena Maria dan Elisabet bertemu ketika mereka sementara berada di tengah suasana khusus, sedang mengandung dan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan secara langsung. Banyak pengalaman ajaib telah mereka lalui masing-masing dan sungguh baik jika mereka dapat saling berbagi cerita dan pengalaman, saling menghibur dan menguatkan.

Begitulah, Maria berangkat dari Nazaret menuju ke pegunungan, sebuah kota di Yehuda. Perjalanan yang ditempuh pastilah cukup melelahkan karena harus melewati wilayah perbukitan. Tiba di rumah Zakharia, Maria memberi salam kepada Elisabet sebagai suatu kebiasaan dan tata krama. Seketika Elisabet mendengar salam Maria, anak di dalam kandungannya melonjak. Elisabet dapat merasakannya sebagai gejala fisik. Tetapi kuasa Roh Kudus meliputinya dan dengan nyaring menyatakan keberkatan luar biasa yang diterima Maria. Ia diberkati di antara semua perempuan, dan diberkati buah rahimnya.

Sesuatu yang tidak lazim juga ditunjukkan oleh Elisabet yang merasa berlebihan saat dikunjungi Maria. Pada satu pihak Elisabet jauh lebih tua dari Maria, dan karena itu memiliki alasan untuk lebih dihormati sebagaimana kebiasaan di dunia timur. Tapi di pihak lain, ia tidak melihat Maria sekedar sebagai sepupu tetapi seorang Ibu Tuhan. Elisabet makin mempertegas kejadian yang baru dialaminya, bagaimana anak yang dikandungnya melonjak di dalam rahimnya karena kegirangan. Suatu sukacita yang terjadi karena perjumpaan dengan Maria, tidak hanya dirasakan oleh Elisabet tapi juga oleh anak yang dikandungnya.

Elisabet lalu mengungkapkan keadaan yang layak dialami Maria, yakni kebahagiaan. Maria telah menerima panggilan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dengan penuh kehambaan (lihat: Lukas 1:38). Kebahagiaan Maria dikaitkan juga dengan rasa percaya yang dimilikinya ketika mendengar berita yang disampaikan malaikat tentang Yesus, Anak Allah. Ucapan Elisabet meneguhkan apa yang dipercayai Maria, bahwa berita yang diterima itu akan terlaksana. Janji yang diterima Maria mengandung kepastian.

Makna dan Implikasi Firman

Allah yang menugaskan Maria dan Elisabet dalam tugas dan perannya masing-masing adalah juga Dia yang mem-bimbing mereka dengan Roh Kudus. Suasana di sekitar masa mengandung dan kelahiran Maria dan Elisabet yang dipenuhi kasih persaudaraan, menjadi sarana Allah bekerja untuk menguatkan, membimbing serta memperteguh pemberian diri mereka dalam rancangan Allah. Melalui perjumpaan antar perempuan ini, kekuatan kasih persaudaraan dialirkan, mengisi relung hati kehambaan keduanya, sehingga mereka senantiasa tertuju pada rancangan keselamatan Allah sendiri.

Kasih persaudaraan merupakan nilai yang bersifat universal, dicari, didambakan, diperjuangkan sampai di masa kini. Ketika relasi antar manusia terkoyak oleh berbagai keinginan pribadi, keinginan kelompok, yang juga disusupi oleh berbagai kepentingan tertentu yang tidak suka melihat adanya perdamaian sejati, maka manusia makin terasing dari sesamanya. Kasih persaudaraan bergerak ke arah sebaliknya, berusaha menghadirkan ruang-ruang perjumpaan antar manusia. Di dalamnya terjadi perjumpaan antara laki-laki dan perempuan, suku yang satu dan suku yang lain, si kaya dan si miskin, pemimpin dan rakyat, tuan dan hamba, dsb.

Nilai kasih persaudaraan adalah salah satu di antara berbagai nilai yang dihayati di tengah peringatan gerejawi masa Adven dan menjelang Natal Yesus Kristus. Kasih persaudaraan sejati hanya dapat ditemukan di dalam kasih Allah kepada dunia dan segala ciptaan-Nya. Sekaligus dari kasih-Nya yang kekal, Allah melalui Yesus Kristus mendatangi dunia dan manusia secara langsung, untuk mengangkat dan menyelamatkanya. Allah mengaruniakan kasih itu di tengah ciptaan-Nya termasuk bagi gereja-Nya.

Karena itu, sukacita kita di minggu Adven haruslah ditandai dengan sukacita membangun semangat persaudaraan tidak hanya dalam ruang-ruang ibadah tapi terus membahana di tengah perjumpaan manusia yang bekerja dan melayani, bahkan tengah perjuangan manusia mengatasi kebencian dan konflik. Kasih persaudaran bersifat nilai dan semangat tetapi ia harus berujung pada tindakan dan karya selamat.


PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Apa makna perjumpaan Maria dan Elisabeth sebagai saudara menurut Lukas 1:39-45?
  2. Bagaimana Gereja memperjuangkan kasih dan persau-daraan di tengah situasi perselisihan dan konflik?
  3. Apa dan bagaimana Program jemaat yang perlu dikem-bangkan dalam rangka memperkuat kasih persaudaraan? 

NAS PEMBIMBING: Roma 12:10

POKOK-POKOK DOA:

  1. Doakan setiap orang dalam masa penantian tetap penuh syukur dan menjadi berkat bagi orang banyak
  2. Berdoa untuk pemerintah dari pusat dan daerah supaya semakin harmoni, stabil, kuat, bersih dan takut akan Tuhan 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU ADVEN IV 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : KJ No. 90 Bernyanyilah, Puteri Sion

Tahbisan:NKB No. 50 Fajar Yang Baru Sudah Rekah

Nas Pembimbing/Nyanyian Masuk: KJ No. 91 Putri Sion, Nyanyilah

Ses Hukum Tuhan: NKB No. 126 Tuhan Memanggilmu

Ses Pengakuan Dosa: KJ. 112 Anak Maria Dalam Palungan

Ses Pemberitaan Anugerah Allah: NKB No. 7 Mari Puji Tuhan Yesus

Persembahan: KJ No. 87 Gapuramu Lapangkanlah

Nyanyian Penutup: Persaudaraan Yang Rukun

ATRIBUT:

Warna dasar biru muda dengan simbol empat buah lilin berwarna ungu.


EmoticonEmoticon