2/05/2017

Kerja adalah Anugerah Tuhan, Tema Mingguan MTPJ 5-11 Februari 2017

GoInspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat
GoInspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat

MTPJ 5 -11 Februari 2017
Bahan Alkitab : 2 Tesalonika 3:6-15

TEMA BULANAN :
“Bekerja Dalam Ketaatan”

TEMA MINGGUAN :
“Kerja adalah Anugerah Tuhan”


ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pada prinsipnya manusia harus bekerja untuk men-dapatkan makanan dan minuman (nafkah) sehingga dapat mempertahankan kehidupannya. Dengan bekerja sebenarnya manusia mentaati firman Tuhan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.  Selain itu juga, manusia diperintahkan untuk berkerja dan secara mandiri mendapatkan kebutuhan hidupnya sehinga tidak menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian, jika manusia malas atau tidak bekerja maka ia akan menganggu dan menjadi beban orang lain. Karena itu pemerintah Indonesia sekarang ini mendorong masyarakat untuk kerja, kerja dan kerja.

Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesa: Kerja adalah tindakan melakukan sesuatu  untuk mencari nafkah atau sebagai suatu mata pencaharian. Menurut Kitab Kejadian, setelah Tuhan Allah menjadikan manusia, Ia memberikan mandate untuk menjaga dan memelihara Taman Eden (Kejadian 2:15).  Ketika manusia  jatuh  dalam dosa, Tuhan berfirman bahwa susah  payah manusia akan mencari rezeki dan dengan berpeluh akan mencari makanan (Kejadian 3:17-19). Dengan demikian, kerja dipandang sebagai amanat sekaligus anugerah Tuhan Allah kepada manusia supaya mengalami kehidupan. Ini berarti bahwa jika manusia tidak bekerja alias malas, maka ia tidak menghargai anugerah Allah dan menentang firman/perintah Allah. Sebab itu bagi orang yang tidak bekerja atau malas nasihat sindiran dari firman Tuhan dalam kitab Amsal 6:6-9, pemalas harus belajar kepada semut yang mencari makan pada musim panas sekalipun.

Kerja sebagai anugerah Tuhan, menjadi tema bacaan pada minggu ini untuk membimbing warga gereja supaya  menghayati, mensyukuri dan menghormati kerja sebagai anugerah Tuhan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesi. Selain itu juga bagi yang belum/tidak bekerja agar mencari pekerjaan supaya dapat hidup mandiri dan tidak berharap makanan/minuman dari orang lain.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika yang sedang mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan, Paulus membimbing mereka untuk mempersiapkan diri menjelang kedatangan Kristus kembali. Ia menekankan bahwa seluruh anggota jemaat telah mendapatkan kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Mereka telah dipilih Allah untuk diselamatkan. Melalui Yesus Kristus Allah telah mengasihi mereka dan telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan kepada mereka (lih. 2 Tes. 2 : 13 – 17). Oleh sebab itu untuk mempersiapkan jemaat, maka Paulus sambil bersyukur kepada Tuhan, ia mengajak jemaat untuk berdoa  dan bekerja sebagai bentuk merefleksikan berbagai berkat Tuhan termasuk  anugerah Allah bagi mereka; Berdoa supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan dan supaya mereka yang melayani terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat; dan supaya mereka bekerja.(lih. 2 Tes. 3:1-5)

Pada waktu  Paulus menulis suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, ia memperingatkan orang-orang yang tidak mau bekerja supaya mereka melakukan pekerjaan (1 Tesalonika  4 : 11). Ia menasihati para pemimpin jemaat supaya  menegor “ mereka yang hidup dengan tidak tertib” (5 : 14). Nampaknya ada orang-orang Kristen di Tesalonika yang salah menafsirkan pemberitaan Paulus tentang hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang segera tiba, sehingga membuat mereka apatis dan tidak mau  bersusah-susah bekerja. Untuk mempertahankan hidup sambil menantikan kedatangan Tuhan mereka hanya menggangu dengan mengaharapkan makanan dan minuman dari orang lain yang tetap bekerja. Rasul Paulus menilai  tindakan ini akan berpengaruh negatif bagi orang yang tetap/rajin melakukan pekejaannya. Mungkin sekali bahwa kelompok orang Kristen yang malas ini merupakan sumber ajaran palsu yang disebutkan oleh Paulus dalam II Tesalonika 2 : 2. Orang-orang malas ini juga menyampaikan hal-hal yang negatif tentang jemaat yang rajin bekerja. Mereka mempunyai banyak waktu dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak berguna, tetapi membela diri dengan mengatakan bahwa  Tuhan akan segera datang. Paulus mengajar jemaat yang rajin agar jangan lekas bingung dan gelisah.

Paulus tidak memberikan  pesan yang bersifat pribadi melainkan “dalam nama Tuhan Yesus Kristus” ayat 6). Paulus memang pernah memberikan nasihat kepada jemaat untuk bekerja (1Tesalonika 4:11; 5:14). Namun nasihat sebelumnya ini kurang diperhatikan oleh saudara-saudara. Paulus merasa perlu mempertajam bahasanya dan menambahkan otoritas perintah ini. Perintah Paulus ditujukan kepada saudara-saudara supaya menjauhkan diri dari orang yang tidak bekerja dan menuruti ajaran yang disampaikan. Orang-orang malas ini, karena meyakini bahwa parousia (hari Tuhan) akan segera tiba, tidak lagi bekerja melainkan hanya menunggu kedatangan hari itu. “Yang tidak melakukan pekerjaannya …”.  Paulus memakai  kata ” ataktos peripaton”; (bertingkah laku tidak disiplin/malas) ini merujuk pada sikap moral (bdk.1Tes 4:11). Paulus menegur jemaat  dengan menggunakan otoritasnya sebagai Rasul Tuhan, yang berhak dan wajib menasihati mereka atas nama Yesus Kristus. Karena itulah Paulus menyuruh mereka harus  menjauhkan diri dari mereka yang malas, sebab Paulus dan teman sekerja tidak lalai bekerja di dalam jemaat (ayat 7) dan “tidak makan roti orang dengan percuma…” (ayat 8) . Makan roti bukan hanya berarti “makan” atau “memperoleh makanan” tetapi lebih dari itu “memperoleh kehidupan” (bdk. Kejadian 3:19; Amsal 7:12).  Di sini Paulus tidak ingin bergantung pada orang lain  soal makanan dalam menjalankan penginjilan. Apa yang ia lakukan jauh dari sikap bermalas-malasan dan membebani orang lain dengan kehidupannya. Ia bersama kawan-kawannya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya (bdk. 1Tesalonika 2:9). Dalam hal ini Paulus bekerja sebagai tukang kemah. Dengan kerja tangan itu ia menanggung kebutuhan hidupnya dan menanggung juga kebutuhan rekan sekerja. “Bukan karena kami tidak berhak untuk itu …” ayat 9). Dengan kalimat ini, Paulus mengafirmasi/menegaskan   prinsip tradisional: “barangsiapa yang bekerja patut mendapatkan upahnya” (Mat 10:10). Paulus adalah seorang rasul dan dengan demikian ia memiliki prestise dan hak untuk memperoleh penghidupan dari jemaat. Ia tahu bahwa Tuhan telah mene-tapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari kerja pemberitaan Injil itu (1Korintus 9:14). Selanjutnya, penolakan Paulus untuk memperoleh penghidupan dari jemaat menunjukkan kemurnian motivasi dan keteladanannya untuk hidup secara mandiri dan tidak membebani orang lain. Hal seperti inilah seyogiaya harus diteladani atau diikuti oleh jemaat.

“Jika seorang yang tidak mau bekerja janganlah ia makan” (ayat 10).  Paulus hendak menegaskan bahwa orang Kristen tidak boleh menjadi orang yang malas. Kewajiban seorang Kristen dalam hidup adalah bekerja untuk menjawab kebutuhan hidupnya. Sebab itu para pemalas diperingatkan agar menanggalkan pola hidup malas dan selanjutnya berupaya untuk bekerja secara rajin sehingga dapat makan dari hasil kerjanya sendiri (ayat 12). “Tetap tenang melakukan peker-jaannya”.  Paulus menasihati dalam nama Tuhan Yesus Kristus supaya mereka yang malas tetap tenang melakukan peker-jaannya, sebab ketenangan dalam bekerja akan mendorong setiap orang dapat menjadi tekun dan dalam taraf inilah tiap pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. Bekerja dengan baik adalah wujud percaya pada Kristus yang menganugerahkan pekerjaan dan terus bekerja untuk dunia dan manusia. Sebab itu jemaat diminta dan diperingati harus membiayai kehidupannnya atau makan makanannya sendiri, sambil terus berupaya untuk “Jangan jemu-jemu berbuat apa yang baik” (ayat 13). Jemaat yang rajin dinasihati supaya tetap melakukan pekerjaannya dan tidak tawar hati  serta tidak terpengaruh oleh mereka yang malas.

Sebaliknya orang yang tidak mendengar nasihat Paulus, “tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia supaya ia menjadi malu”.(ayat 14). Ayat ini dimaksudkan sebagai antisipasi kemungkinan beberapa pemalas menolak apa yang diajar-kannya. Kata “Semeiow“ (tandailah dia, buat catatan, perhatikanlah)  supaya jemaat  yang taat/setia tidak bergaul dengannya (bdk. 1 Tesalonika 5:14 dan I Korintus 5:11) atau dikucilkan secara tidak eksplisit supaya ia malu. Karena itu dalam ayat 15, dikatakan janganlah anggap dia sebagai musuh. Jemaat tidak boleh memusuhi, sebab seseorang jika dimusuhi akan sulit baginya untuk bertobat. Saudara yang bersalah itu hendaknya ditegur tanpa rasa benci,  ditegur sebagai saudara.

Makna dan Implikasi Firman

Bekerja sebagai manifestasi memenuhi atau menjalankan perintah dan anugerah Tuhan kepada manusia. Tuhan memerintahkan  kepada manusia supaya bekerja untuk memperoleh kehidupan, sebab Ia telah menganugerahkan makanan dan minuman  yang diperlukan. Dengan demikian berkerja untuk hidup harus dipahami sebagai anugerah dan bentuk  ketaatan pada pangilan Tuhan (vocation) untuk menjadi kawan sekerja-Nya.

Tuhan Allah tidak menghendaki umat ciptaan-Nya berperilaku malas apalagi mempengaruhi orang yang setia dan rajin untuk tidak bekerja. Bagi orang yang malas bekerja haruslah kita  tetap menganggapnya  sebagai  saudara untuk dinasihati supaya ia menyadari keberadaannya dan akan rajin bekerja.  Tuhan Allah menghendaki supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya menyadari bahwa bekerja merupakan aktualisasi nilai diri sebagai ciptaan-Nya yang mulia dan yang menghargai anugerah Allah.

Bekerja yang baik dibutuhkan ketaatan, kesabaran dan ketekunan. Bekerja dalam Ketaatan pasti mendatangkan hasil yang optimal yang berisikan kebahagiaan.

Kehidupan di dunia yang penuh persaingan sekarang ini menuntut sekaligus memberikan peluang bagi setiap warga gereja untuk mendayagunakan potensi, keterampilan, keahlian dan karunia sebagai anugerah Tuhan yang diberikan supaya  dapat hidup. Sekarang ini ada banyak sarana untuk mengembangkan bakat dan minat melalui latihan keterampilan kerja yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta.  Lapangan pekerjaan  begitu banyak tersedia apakah di sektor pemerintahan, swasta, pertanian, perkebunan, peternakan, tukang,  kewirausahaan  (entrepreneurship), dan lain-lain. Oleh karena itu supaya menjadi orang kristen yang mandiri dan sukses,  dalam bekerja, hendaklah melakukannya dengan baik sesuai kehendak Tuhan (band. Kolose 3:23).

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat di Tesalonika tentang anugerah Allah (bnd. 2 Tesalonika. 2 : 13 – 17) yang dihubungkan dengan kerja yang harus dilakukan oleh jemaat sebagaimana perikop 2 Tesalonika 3:6-15  ?
  2. Apa dan bagaimana tindakan konkrit yang harus dilakukan oleh jemaat supaya menghargai karunia Allah termasuk pekerjaan supaya semua warga gereja dapat bekerja dan tidak ada yang malas ? 

NAS PEMBIMBING: Amsal 6:6 

POKOK-POKOK DOA:

Mendoakan pemerintah baik di pusat maupun daerah agar lebih banyak membuka lapangan kerja.
Mendoakan upaya pemerintah menanggulangi kemiskinan.
Mendoakan program gereja melakukan pelatihan keteram-pilan bagi warga gereja supaya memiliki kompetensi sesuai dengan minat dan bakat.
Mendokan upaya setiap warga gereja untuk menasihati/ membimbing saudara seiman yang malas bekerja.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : KJ. No.21. Hari Minggu Hari Yang Mulia

Sesudah Nas Pemb:  DSL.   Selaku Orang Pengetam

Pengakuan Dosa:   NKB No. 13. O Allahku Jenguklah Diriku

Janji Anugerah Allah:  NKB No. 22. Walau Dosamu Merah

Sesudah Hukum Tuhan:  KJ.No. 436. Lawanlah Godaan

Persembahan: NNBT No. 20. Kami Bersyukur Pada-Mu Tuhan

Penutup : NKB No.34. Setia-Mu Tuhanku Tiada Bertara

ATRIBUT

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.


EmoticonEmoticon