3/26/2017

Kemurnian Iman Diuji; Tema Mingguan MTPJ 26 Maret-1 April 2017

Goinspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat


TEMA BULANAN :
“Bekerja Dalam Ketaatan

TEMA MINGGUAN :
“Kemurnian Iman Diuji”

Bacaan Alkitab : Lukas 22:54-62

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Godaan dan tekanan hidup membuat orang percaya sering berada dalam situasi sulit. Kebutuhan datang karena mempersiapkan diri atas harapan hidup di masa depan, jabatan yang lebih tinggi, kebutuhan sekolah anak-anak semakin meningkat; godaan materialisme, konsumerisme, gara-gara kemakmuran, membuat orang lebih menekankan diri pada orientasi materialisme, di mana harta dan uang menjadi ukuran kebenaran hidup; kesenangan hidup yang menekankan kemakmuran dan kesejahteraan.

Semua itu sering membawa orang beriman pada kejatuhan moral, degradasi moral bahkan mempertaruhkan iman yang dia miliki, di mana kebenaran alkitabiah, bahkan pemberian diri untuk menyembah Tuhan dipertaruhkan. Orang Kristen terjebak untuk lebih takut dan karena itu mau meninggalkan iman dan sering tidak memperhitungkan kebenaran iman yang dia pegang berdasarkan kesaksian Alkitab dan pengakuan iman gereja. Di sinilah dalam kesulitan hidup, iman kita diuji apakah  tetap murni, bukan hanya secara konseptual/pemikiran tetapi terutama dalam penghayatan dan pengambilan keputusan dan perilaku  setiap saat.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Bacaan Injil Lukas 22:54-62, menyaksikan proses Yesus menjalani Via Dolorosa yang sungguh-sungguh sulit. Rentetan fitnahan, siksaan, baik secara jasmani maupun rohani, sungguh-sungguh membuat Yesus Kristus tersiksa/menderita. Orang-orang yang seharusnya mengayomi masyarakat melaksanakan kebenaran justru memutar-balikkannya. Masyarakat/publik yang pernah mengenyam kebaikan Kristus dengan mujizat-mujizat (menyembuhkan, mengusir setan,dll) memberi makan kepada banyak orang, justru sekarang mencaci maki dan menyudutkan Yesus. Tidak terkecuali, dua belas murid yang siang dan malam bersama Yesus, di saat Yesus menderita justru melarikan diri dan meninggalkan Dia, termasuk Simon Petrus. Saat Yesus dihakimi oleh Imam-imam besar, Simon Petrus justru tidak mendekat. Petrus hanya membuntuti Yesus dari jauh mungkin karena menghindarkan diri dari bahaya, mencari aman karena reputasinya (nama baik; kepahlawanan) dst. Memang heroisme atau rasa kepahlawanan Petrus nampak di taman Getsemani. Dia merasa bahwa Gurunya sedang terancam, karena itu dia maju dan menebas telinga Maltus. Tindakan herois Simon Petrus justru tidak dibenarkan Yesus sebab Ia sendiri sebenarnya mampu menghabisi pasukan yang mengancam Dia. Yesus konsisten dengan doa-Nya, “kehendak Bapa di sorga yang jadi”. Tinggal ketekunan iman yang kokoh di saat menderita. Tentu Simon Petrus akhirnya merasa bersalah dan dikejar-kejar oleh kesalahannya. Petrus membuntuti dari jauh apa yang dilakukan oleh pasukan terhadap Gurunya. Malam sungguh dingin waktu itu ketika Yesus dihakimi oleh imam-imam kepala. Karena itu Petrus mendekati api bersama banyak orang yang menyaksikan penghakiman Yesus. Ada seorang wanita dan kemudian seorang laki-laki melihat Petrus duduk bersama. Kemungkinan perempuan dan laki-laki itu adalah saudara Maltus, atau juga Maltus ada di tengah-tengah mereka. Hamba perempuan dan selanjutnya laki-laki itu  berkata “orang ini (=Petrus) bersama-sama dengan Dia (=Yesus)”. Jawaban Petrus bahwa, dia bukan murid Yesus dan Petrus tidak mengenal Yesus (ayat 57,58). Memang jawabannya pasti menyakitkan hati Yesus.

Kata “tidak kenal atau menyangkal dalam konteks cerita, dapat dimengerti dalam, Istilah Yunani “eerneesato” artinya dalam bahasa Inggris “to contradict”, “to disavow”, “to reject”, “to abnegate”, artinya tidak mengakui statusnya dan tidak mengakui orang yang sungguh dia kenal. Ini terjadi karena tekanan yang menurut dia menempatkannya dalam bahaya.

Petrus bukan hanya menyangkal statusnya sebagai murid Yesus, tetapi juga; bahkan yang  lebih menyakitkan, yaitu  Petrus menyangkal-Nya sebagai Guru. Penolakan Petrus di luar kemampuan berpikirnya, karena dia tidak ada kesempatan berstrategi, menolak  yang dituduhkan kepadanya sebagai murid Yesus dan  orang yang mengenal Yesus. Seandainya situasi semacam ini sudah diketahuinya kemung-kinan besar dia tidak  mendekati kerumunan orang yang mengeliling api. Di sini Petrus menjadi pengecut. (ia menyangkal statusnya dan menyangkal Yesus).

Resep rohani yang sebenarnya mesti dia buat ialah: pertama, mengingat akan apa yang diperingatkan Tuhan Yesus; bahwa Petrus akan menyangkal Yesus (Matius 26:33-35; Lukas 22:31-34). Kedua, dia berdoa dan berjaga-jaga; turut berdoa bersama Yesus di taman Getsemani. Tetapi itu tidak dilakukannya sehingga   dia menyangkal Yesus.

Apa artinya bunyi ayam berkokok tiga kali? Pertama, ucapan Yesus sebelumnya benar. Kedua, mengingatkan Petrus bahwa menyangkal Yesus dan statusnya adalah kesalahan yang tidak boleh disepelekan. Ketiga, reaksi Petrus dengan menangis dan menyesal setelah mendengar ayam berkokok meng-ingatkannya bahwa ada tanda hidup baru.  Petrus tahu bahwa dia sudah berbuat dosa dan menyesali kesalahannya, ini sangat penting. Semua harus dipahami dalam rancangan Tuhan, karena Petrus sungguh berharga di hadapan Tuhan dan rancangan-Nya (providential dan predestinasi), yang menunjuk padanya, bahwa dia akan dipakai sebagai murid dan Rasul Tuhan  bagi pekabaran Injil sesudah paskah serta menjadi pemimpin Gereja Tuhan yang luar biasa.

Makna dan Implikasi Firman

Dalam persoalan hidup kita sering tergiring jauh dari Tuhan karena  jebakan-jebakan duniawi yang  dapat membawa penyangkalan terhadap status kemuridan dan tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Gereja perlu mempelajari, menyimak akan kesulitan hidup anggota jemaat yang terjebak  menyangkal status sebagai murid dan  Yesus sebagai Juruselamat hanya karena kemiskinan, egoism dan materialisme.

Sebagai warga gereja jangan ada penyangkalan pada status jemaat GMIM dan “menjual” Tuhan Yesus karena: jabatan, uang, popularitas, harta, pacar, dll.

Orang percaya harus bersyukur dan yakin bahwa Tuhan Allah dalam Yesus Kristus punya rencana indah bagi  kita  sebab Tuhan tidak menghendaki umat-Nya bertindak fasik tetapi taat dan setia pada-Nya sebagaimana berita Yesaya 55:1-13, supaya umat mencari Tuhan, berseru kepada-Nya, meninggalkan kefasikan dan rancangan jahat agar dapat turut serta dalam keselamatan dari Tuhan.
Gereja perlu memperkuat, pengajaran, pembinaan, penggembalaan dan perkunjungan secara teratur pada warganya.

Kita harus memelihara dan memperkuat persekutuan gereja supaya dapat menyelesaikan masalah-masalah internal di aras jemaat, wilayah dan sinode. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa peran Simon Petrus dalam ceritera Via Dolorosa Yesus?
  2. Apakah  respons  penyesalan sebagai bentuk kepekaan kita terhadap tanda-tanda Tuhan yang memberi isyarat menuju penyesalan dan pertobatan?
  3. Bagaimana kita sebagai Gereja Tuhan menyikapi persoalan dan penderitaan dalam kehidupan berjemaat, berbangsa dan  bernegara ?

NAS PEMBIMBING: 1 Petrus 1:6-7 

POKOK-POKOK DOA

  • Kekuatan iman bagi mereka yang dianiaya karena tekanan hidup
  • Kekuatan iman dalam mengambil keputusan bagi mereka yang menderita
  • Kekuatan iman bagi orang-orang percaya baik orang yang berkekurangan maupun berkelebihan.
  • Warga gereja tetap setia dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat yang punya rencana indah bagi umat-Nya. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN MINGGU SENGSARA IV 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Persiapan: KJ No. 161. Segala Kemuliaan

Nyanyian Masuk: NKB No. 74. Hosana

Pengakuan Dosa:  KJ No. 169:2. Memandang Salib Rajaku

Pengampunan Dosa: NNBT No.9. Ku Akan Selalu Bersyukur

Ajakan Mengikuti  Yesus Kristus Di Jalan Sengsara: KJ No. 363 Bagi Yesus Kuserahkan.

Ses Doa Pembacaan Alkitab: Carilah orang terhilang

Persembahan: KJ No. 364. Berserah Kepada Yesus

Nyanyian Penutup: KJ No. 370 Ku Mau Berjalan Dengan Jurus’lamatku. 

ATRIBUT

Warna dasar unggu dengan symbol XP (Khi-Rho), cawan pengucapan, salib dan mahkota duri.


Youtube | ChristianFellowship5
Source | MTPJ Sinode GMIM 2017


EmoticonEmoticon