3/12/2017

Siap Menderita Tema Mingguan; MTPJ 12-18 Maret 2017 Minggu Sengsara II

Goinspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat

TEMA BULANAN :
“Bekerja Dalam Ketaatan”

TEMA MINGGUAN :
“Siap Menderita”

Bacaan Alkitab : 1 Petrus 3:13-22

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pengertian “membangun” berdasarkan visual arti kata lebih menunjuk pada: membantu, menyusun, membuat, merentang kan, konstruktif dari sebuah bangunan. Dan hal ini bisa menunjuk pada sesuatu yang bersifat “fisik” mau-pun “non fisik” (manusia). Dengan demikian membangun sesuatu memerlukan integritas manusia yang memiliki sikap “kesabaran”, “kerelaan”, dan “pengorbanan”, agar tujuan membangun memiliki hasil yang baik. Ibarat arsitektur bangunan ada eksterior luar dan interior dalam, artinya sebagai manusia bukan hanya bagus di luar; hias diri dengan pakaian, perhiasan, kendaraan dll. Tetapi otak, hati dan jiwa juga harus bersih.

Manusia sering terjebak pada faktor fisik dalam membangun hidup, padahal sikap baik dari dalam adalah penentu segala hal untuk bekerja, itu sebabnya Tema kita: “Siap Menderita” sebagai kunci bekerja dalam ketaatan yang menghasilkan sesuatu yang berkualitas, terutama membangun iman orang percaya agar tidak mudah putus asa, masa bodoh dan hilang pengharapan sekalipun kehidupan orang percaya menghadapi tekanan hidup.

Penderitaan bukanlah keadaan “ideal” (menyenangkan, memuaskan) yang harus diterima secara pasif orang Kristen, tetapi juga bukan bagian yang asing dalam kehidupan rohani. Kita sedang berurusan dengan realitas yang merupakan bagian dari kehidupan Kristen, serta memahami bagaimana penderitaan dapat mencapai tujuan Allah. Alasan pemilihan tema dalam 1 Petrus cukup sederhana: Gereja dipanggil untuk menderita dalam arti taat dan setia kepada Allah bahkan di tengah lingkungan yang memu-suhinya, supaya melalui ketaatan dan kesetiaannya itu Allah menyempurnakan tujuan-Nya. Dalam pemahaman inilah penderitaan dikaitkan dengan kesaksian gereja. Dengan perkataan lain, yang ingin kita refleksikan adalah kehidupan gereja dalam lingkungan yang bermusuhan dilihat dari perspektif kesaksian atau misiologis dalam pengertian luas yakni, kesaksian gereja melalui perkataan dan perbuatan dalam konteks di mana ia berada, dan hal inilah kita memerlukan kesabaran, kerelaan dan pengorbanan, itu sebabnya kita harus siap menderita.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
1 Petrus 3:13-22.

Surat 1 Petrus, secara keseluruhan merupakan surat dari Rasul Petrus yang ditujukan untuk orang Kristen dengan sebutan “umat pilihan Allah”. (1:1-2) yakni orang orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapodokia, Asia Kecil dan Bitinia. Dengan tujuan untuk menguatkan iman mereka yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Surat ini adalah kabar Baik tentang Yesus Kristus yang meru-pakan jaminan harapan mereka. Sebab Yesus Kristus sekalipun mengalami kematian, namun hidup kembali dan berjanji akan datang lagi untuk memberi kehidupan yang sesungguhnya.

Atas dasar itu mereka hendaknya rela dan tahan men-derita, sambil menyadari bahwa penderitaan mereka di satu sisi merupakan ujian iman untuk tetap tekun bertahan dalam membangun hidup sekalipun meng-alami kesulitan. Dan pada sisi yang lain menderita dengan sabar dipahami akan memiliki “upah”, bahwa mereka akan dibalas oleh Tuhan pada saat Yesus Kristus kembali. Menjadi fokus eksegesis adalah penderitaan gereja dan keyakinan bahwa Allah pada akhirnya akan menegakkan orang benar dan menghukum orang jahat (ay. 17).

Pada pasal 3 sangat jelas Penderitaan umat karena melakukan kebenaran akan memiliki kebahagiaan (ay. 13,14) Dengan membangun hidup yang memiliki kesa-baran akan membangun iman yang tidak takut dan gentar sekalipun ancaman dan tantangan sangat berat. Disamping itu “kerelaan” membangun hidup walau dicerca dan difitnah adalah gambaran Kristus yang mati akibat dosa manusia. Artinya Pengorbanan iman orang percaya sebagai bentuk ujian yang harus ditaati dengan lemah lembut dan hormat, (15-18): adalah sebuah pertanggung jawaban setiap umat Kristen yang setia sekalipun menderita, tetapi memiliki Roh yang mem-bebaskan yaitu kuasa Kristus dari kematian-Nya menuju pada kebangkitan-Nya.

Bahwa penderitaan Kristen memiliki ciri eskatologis yang biasanya lebih berkaitan dengan tulisan-tulisan apo-kaliptik (terselubung). Yaitu bagaimana penderitaan bisa menjadi satu bentuk kesaksian gereja kepada dunia? di mana gereja dengan memiliki “kesabaran” dan setia kepada identitasnya yang sejati di tengah situasi yang bermusuhan, gereja harus dapat berbicara kepada dunia. Dengan kata lain, biarlah gereja tetap gereja ketika ia memberi respons kepada situasi apa pun yang ia temukan.

Jelas bahwa penderitaan adalah tema utama dalam surat Petrus. Baik kata kerja pascho (menderita) maupun kata benda pathema (penderitaan) ditemukan lebih banyak dalam surat ini dibanding kitab PB lainnya. “Pascho” mengacu baik kepada penderitaan orang Kristen maupun kepada penderitaan Kristus, tetapi lebih sering digunakan dalam pengertian kedua, yakni Kristus telah menderita bagi kita. “Pathema” hampir semata-mata digunakan untuk penderitaan Kristus dan kadang-kadang mengacu pada kematian-Nya. Penderitaan Kristus adalah teladan kelemahlembutan yang perlu dicontoh oleh orang percaya ketika mereka berbuat baik dan menderita di tengah ketidakadilan, menjadi teladan keberanian dan jaminan kemenangan, membuat sese-orang diberkati karena melakukan apa yang benar (ay 14); pengalaman yang lebih baik jika itu adalah kehendak Allah, daripada melakukan yang jahat (ay 17), dan seharusnya penderitaan membuat umat Allah menyerahkan diri mereka sendiri kepada Allah.

Orang Percaya menerima anugerah oleh kuasa kebang-kitan-Nya (ay 21-22). Sekalipun dalam lingkungan yang bermusuhan gereja dapat memberikan dampak evangelistic (misi). Baik baptisan maupun etika Kristen dapat memiliki nilai kesaksian sebab hal itu merupakan ‘kiasan’ dari tuntutan jasmani pada sesuatu yang ilahi.

Makna dan Implikasi Firman

Perikop ini menekankan agar rajin berbuat baik adalah bagian dari hidup orang kristen untuk melakukan yang baik sekalipun menghadapi tantangan dan hambatan dalam berbagai pekerjaan. Petrus menekankan mem-bangun hidup harus saling memberkati, bukan sebalik-nya membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebagai-mana Petrus mengutip dalam Mazmur 34:13-17. Bahwa orang Kristen dipanggil untuk hidup dijalan yang benar dan jujur, dan dengan alasan yang sama dengan Per-janjian Lama. Petrus mengatakan dalam ayat 14 “sekalipun kamu harus menderita juga karena kebe-naran, kamu akan berbahagia”. Mengapa berbahagia? Karena sebagaimana disebutkan Yesus dalam Yohanes 15:8-9, dibenci atau menderita karena tidak hidup menurut cara-cara dunia memperlihatkan bahwa kita sungguh-sungguh milik Kristus, itu berarti penderitaan dipahami sebagai ujian,dan sarana pembuktian akan kemurnian iman itulah kebahagian yang sesungguhnya. Dengan pemahaman demikian, Petrus mengingatkan jemaat agar tidak usah takut dalam berbuat baik, walaupun selalu ada risiko hidup yang demikian, yakni penderitaan. Tetapi takutlah kepada Tuhan dengan hidup benar, bukankah lebih baik menderita karena berbuat baik dari pada menderita karena berbuat jahat? Demikianlah Petrus menegaskannya dalam ayat 17. Sebab menderita oleh karena berbuat baik sebagai implkasi iman kita kepada Yesus Kristus akan berakhir kebahagiaan, ‘happy ending’.

Penderitaan itu sendiri bukanlah sebuah kesaksian. Tetapi ketaatan kepada Allah di tengah-tengah pende-ritaan adalah sebuah kesaksian, sesungguhnya, itulah sebuah kesaksian yang mengesankan. Dengan demi-kian tidak ada yang dapat mengintimidasi gereja dari ibadahnya, dari berbuat baik dan mengikut Kristus. Bukan penganiayaan yang akan menghancurkan ge-reja, tetapi meng kompromikan kebenaran Injil dan melakukan perselingkuhan dengan dunia yang cemar, justru gereja akan menghancurkan dirinya sendiri. Namun, meskipun penderitaan tidak dapat dihindari, gereja harus bersikap bijak dalam berurusan dengan orang-orang yang tidak percaya dan supaya penga-niayaan dapat dicegah

Membangun berbagai aspek hidup orang percaya tidak akan luput dengan berbagai tantangan dan tuntutan hidup yang di dalamnya memerlukan ketahanan iman yang kuat, yakni bagaimana sikap kesabaran, kerelaan, bahkan pengorbanan menghadapi realitas hidup agar “survive” (bertahan) di sanalah kita temukan keme-nangan yang membahagiakan, yang tidak dapat diukur oleh pendapatan sehari habis seketika Sebab etos kerja yang berhasil dimulai dari kerja keras  dalam ketekunan yang memiliki iman kepada Kristus. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       
  1. Apa yang kita pahami tentang penderitaan Dunia dalam kehidupan Kekristenan, menurut perikop ini?
  2. Tantangan dan hambatan apakah yang dihadapi gereja saat ini? Sebutkan beberapa contoh!
  3. Bagaimanakah sikap Gereja menghadapi berbagai tekanan yang dapat menghancurkan iman Kristen? 
NAS PEMBIMBING: Yesaya 53:3-4 

POKOK-POKOK DOA:
  • Tuhan memberi kesabaran dalam tugas menghadapi setiap pekerjaan
  • Gereja diberi kekuatan dan perlindungan menghadapi berbagai tekanan dan hambatan.
  • Kehidupan orang percaya agar tidak gampang tergoda dan meninggalkan Kristus oleh karena tantangan dunia, baik ekonomi, politik dan persoalan sosial.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: MINGGU SENGSARA II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: Ses. Nas Pemb: KJ No. 178 Kar’na Kasinya Padaku

Pengakuan Dosa: KJ No. 35 Tercurah darah Tuhanku

Berita Anugerah: NNBT No. 9 Ku Akan Selalu Bersyukur

Ajakan Mengikuti Yesus di Jalan Sengsara : KJ No. 376 Ikut Dikau saja Tuhan.

Doa, Pembacaan Alkitab: KJ No. 49 Firman Allah Jayalah

Persembahan       : KJ. No. 368 Pada Kaki Salib-Mu

Penutup: NNBT No. 26 Tuhan Yesusku, Mutiara Hatiku. 

ATRIBUT

Warna dasar unggu dengan symbol XP (Khi-Rho), cawan pengucapan, salib dan mahkota duri.



Youtube | SIG adk
Source | MTPJ Sinode GMIM 2017


EmoticonEmoticon