4/16/2017

Dia Hidup Supaya Kita Hidup; Tema Mingguan MTPJ 16-22 April 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

TEMA BULANAN :
“Persembahan Yang Menghidupkan”

TEMA MINGGUAN : 
“Dia Hidup Supaya Kita Hidup”

Bacaan Alkitab : 
Lukas 24:1-12

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Jika kita mengamati perilaku manusia sekarang ini, maka kita akan menjadi kecewa dan cemas. Ada orang hidup hanya untuk kepentingan dan keinginannya sendiri. Mereka menikmati kese-nangan dengan mengabaikan nilai-nilai moral tanpa mempedulikan nasib sesama. Orang lain menderita dan dikorbankan demi memuaskan kepentingan pribadi atau kelompok. Bila perilaku seperti ini masih dilakukan oleh orang Kristen, maka patut dipertanyakan landasan iman hidupnya.

Melalui Perayaan Kebangkitan Yesus Kristus, orang percaya diajak untuk mengutamakan pemaknaan spiritual yang bersentuhan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Sehingga perayaan Paskah memberikan kontribusi yang positif dalam membangun iman dan karakter hidup yang lebih baik.  Untuk itu kita diajak tidak hanya merayakannya dalam bentuk ibadah dan arak-arakkan (selebrasi), tetapi lebih mengkedepankan nilai-nilai spiritual yang membangkitkan kepedulian akan hidup manusia terutama bagi anak-anak dan perempuan yang sering menjadi korban kekerasan, pelecehan seksual dan ketidakadilan, juga bumi/alam yang semakin memprihatinkan karena ulah manusia.

Bukan suatu kebetulan jika Perayaan Paskah  tahun ini yang adalah Hari Anak GMIM,  Hari Pemuda dan Remaja,  diikuti dengan perayaan Hari Kartini dan Hari Bumi. Dituntun oleh tema yaitu Dia hidup supaya kita hidup. Tema ini merupakan suatu upaya yang strategis dalam membangun komitmen untuk  pembaruan diri. Hidup bukan asal hidup, melainkan hidup dalam kemenangan Kristus yang melahirkan transformasi dan recovery (pemulihan) yang utuh bagi manusia dan dunia.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kisah Kebangkitan Yesus dimulai dengan  penegasan “tetapi pagi-pagi benar, pada hari pertama minggu itu”. Secara harfiah berarti dini hari, pada hari minggu, atau hari pertama. Kata ini juga menggambarkan awal baru, fajar/hari baru.

Para perempuan pergi ke kubur dengan membawa rempah-rempah (ramuan-ramuan dari daun-daunan atau tumbuh-tum-buhan yang berbau wangi  untuk mengawetkan jenasah agar tidak membusuk) dan minyak mur (minyak wangi yang mahal harga-nya). Mereka telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk pe-nguburan menurut adat orang Yahudi. Secara implisit menun-jukkan bahwa kaum perempuan lebih concern (perhatian, kepe-dulian) dan dari sisi sosiologis menggambarkan peran perempuan yang penting dalam ritus budaya dan agama di zaman itu.

Kebangkitan Yesus disertai dengan bukti, adanya saksi mata seperti Maria dari Magdala, Yohana, Maria Ibu Yakobus dan Petrus dari fakta autentik sebagai berikut:

Batu penutup kubur sudah terguling. Berbentuk kubus dan cakram, berdiameter 0,9 – 1,2 m suatu ukuran yang sangat besar untuk digulingkan atau digeser.
Tidak ditemukan mayat Tuhan Yesus hanya kain kapan saja. Kain kapan (kafan) adalah kain lenan yang putih bersih ukurannya 4,36 x 1,10 meter untuk membalut atau membungkus jenasah.
Pernyataan kebangkitan Yesus diteguhkan oleh dua orang yang memakai pakaian yang berkilau-kilauan, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati ? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan kepada orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga”. Inti pernyataan ini adalah bahwa Yesus telah bangkit. Ia sudah hidup kembali. Kubur yang menjadi klimaks maut atau kematian tidak berkuasa lagi. Yesus telah mengalahkan maut (band 1 Korintus 15 : 26). Hal ini terjadi sesuai dengan apa yang pernah dikatakan Yesus.

Kebangkitan Yesus memberikan hidup baru bagi manusia; hidup yang berkualitas. Dia hidup supaya kita hidup, dari hidup natural; alamiah; jasmani  (Yun= bios) kini memiliki hidup kekal (Yun= zao). Hidup dalam kemenangan Yesus yang bangkit.

Peristiwa ini membawa suatu perubahan bagi Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus. Mereka yang semula berdiri termangu-mangu (Yunani=aporeo; bingung, ragu-ragu), sangat ketakutan (Yun = emphobos), dan tidak mengingat perkataan Yesus kini  berubah. Suatu perubahan totalitas yang meliputi kondisi psikis/mental: dari kebingungan dan ketakutan menjadi keyakinan, pola pikir: dari lupa menjadi  ingat (Ingg = to remind, be mindful of) dan stigma sosial tentang peran perem-puan yang terbatas pada peran domestik kini mendapatkan peran publik, yaitu menjadi pemberita pertama kebangkitan Yesus.

Para perempuan sebagai pemberita pertama mendapatkan respons negatif dari para rasul. Hal ini disebabkan oleh stigma sosial dalam budaya patriakhal. Perempuan adalah masyarakat kelas dua. Berita yang mereka sampaikan seakan-akan omong kosong. Sehingga para rasul tidak percaya. Petrus sang rasul melangkah lebih jauh dari  rasul lainnya, ia cepat-cepat pergi ke kubur. Ketika ia menjenguk ke dalam yang dilihatnya hanya kain kapan saja. Ia pergi dan bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi. Bertanya dalam hati adalah langkah awal untuk menenangkan diri, berpikir positif dan meneguhkan iman kepada Yesus yang bangkit. Hal ini turut memengaruhi kepribadian Petrus yang menjadi salah satu rasul yang berani dan mati martir oleh imannya.

Makna dan Implikasi Firman

Kebangkitan Yesus adalah bukti kekalahan kuasa dosa dan maut. Pernyataan iman ini telah ditegaskan pemazmur dalam pujiannya kepada Tuhan, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur. Tuhan menyelamatkan manusia dari kuasa maut untuk mem-berikan kehidupan baru yang berkualitas (Bnd. Mzm. 103:4). Hidup yang dimaksudkan adalah hidup dalam keme-nangan atas nafsu duniawi seperti ketamakan harta dan uang, ambisi mengejar kekuasaan/jabatan dengan berbagai cara,  serta stigma sosial terhadap sesama manusia yang berujung pada tindakan kekerasan dan intoleransi.

Kebangkitan Yesus telah membuka ruang dan kesempatan baru bagi kaum perempuan. Masa-masa kelam dimana kaum perem-puan termarjinal oleh dirinya sendiri maupun stigma sosial, kini telah berakhir. Allah memakai kaum perempuan sebagai mitra-Nya untuk meneruskan berita kebangkitan Yesus. Itulah akses (jalan masuk) bagi kaum perempuan untuk berkiprah di sektor domestic sebagai isteri dan ibu, tapi juga di sektor publik sebagai wanita karier. Kedua peran ini harus berjalan secara harmonis. Jika demi karier, peran ibu dan isteri diabaikan, maka hal ini mematikan “penghargaan” perempuan atas kodratnya. Suatu ke-harusan baginya untuk mengembangkan kemampuan, wa-wasan dan ketrampilan dengan menekankan 3B (brain, beauty, behavior). “Brain” adalah kemampuan kognitif (akal budi), “beauty” merujuk kecantikan batiniah (kecerdasan spiritual dan emosional) dan “behavior” menunjuk pada karakter serta perilaku kristiani.

Secara implisit peristiwa Paskah menggambarkan tentang kaum perempuan sebagai orang yang peduli, suka bekerja keras, menghargai waktu, tidak kenal menyerah, rela berkorban dan memiliki kesantunan religius. Mereka mempersiapkan rempah-rempah, bangun dini hari, bersikap sangat hormat kepada utusan Tuhan, serta tidak malu bersaksi sekalipun tidak dipercayai dan dianggap penyebar berita omong kosong.

Paskah Yesus ini memotivasi orang tua, pelayan anak, remaja dan pemuda untuk mempersiapkan generasi muda memiliki kualitas hidup terbaik (3B) yang dipersembahkan untuk Tuhan dan dunia.

Cuaca ekstrem yang mengakibatkan berbagai bencana mengingatkan kita bahwa alampun ingin dibebaskan dan dimerdekakan dari kerakusan manusia. Tuhan Yesus yang hidup menghidupkan kita untuk membangun relasi yang harmoni dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Di hari bumi ini kita diajak untuk menjadi manusia yang lebih ramah terhadap alam dengan menjadikan bumi sebagai rumah yang sejuk, aman dan damai bagi semua penghuninya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Bagaimana peran para wanita dalam kaitannya dengan peristiwa kebangkitan Yesus ?
  2. Apa tujuan kebangkitan Yesus sebagaimana pengajaran-pengajaran-Nya
  3. Berikanlah contoh bentuk pemberdayaan diri kaum perempuan (sebagai isteri, ibu atau wanita karier) serta upaya kita memberdayakan anak, remaja dan pemuda untuk hidup sebagaimana maksud kebangkitan-Nya? 

NAS PEMBIMBING : Roma 6:4 

POKOK-POKOK DOA

  • Kegiatan Jemaat di hari Paskah
  • Program Jemaat bagi pemuda, remaja, anak serta upaya memelihara bumi
  • Perempuan dan anak
  • Korban Bencana alam, KDRT, Trafficking 


TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI RAYA PASKAH 1 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : KJ No. 211 Tuhanku Bangkit! Nyanyilah

Ses Nas Pembimbing: S’bab Dia Hidup

Pengakuan Dosa: NNBT No. 10 Ya Tuhan Yang Kudus

Pemberitaan Anugerah Allah: NNBT No. 36 Barangsiapa Yang Percaya Kepada Tuhan.

Persembahan : KJ No. 188 Kristus Bangkit! Soraklah

Penutup: KJ No. 194 Dikau, Yang Bangkit, Mahamulia

ATRIBUT

Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dengan salib berwarna kuning


Source| MTPJ Sinode GMIM 2017


EmoticonEmoticon