4/02/2017

Hamba Yang Menderita Tema Mingguan; MTPJ 2-8 April Minggu Sengsara 5

Goinspirit-Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat

TEMA BULANAN :
“Persembahan Yang Menghidupkan”

TEMA MINGGUAN : 
“Hamba Yang Menderita”

Bacaan Alkitab : Filipi 2:1-11

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Hamba dalam PL (Ibrani: “ebed”) berarti: budak, hamba pelayan, juga berarti seseorang yang bekerja untuk keperluan kehendak orang lain, ia adalah pekerja yang menjadi milik tuannya. Menurut PB (bahasa Yunani: “doulus”), berarti  budak atau pelayan. Hamba menurut PL dan PB memiliki kesamaan arti yang menunjuk “status” seseorang, bahwa hamba itu hanyalah budak, pekerja, pelayan yang melaksanakan pekerjaan untuk orang lain, yang pekerjaannya diatur oleh tuannya.

Hamba yang menderita selalu menunjuk kepada sosok Tuhan Yesus yang menderita, sengsara, dan penuh pengorbanan; selain itu Tuhan Yesus dilihat juga sebagai pribadi yang rendah hati, dan mau berkorban menanggung segala dosa umat manusia. Perbuatan yang penuh pengorbanan itulah yang seharusnya menjadi titik fokus pelayanan seorang hamba Tuhan di zaman sekarang. Cara hidup hamba yang menderita seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus seharusnya dijadikan dasar dan model pelayanan seorang hamba Tuhan. Kesederhanaan, kasih, pengampunan, ketaatan dan penderitaan itulah kekuatan seorang hamba Tuhan. Kesanggupan seorang hamba untuk menderita seperti Yesus menunjuk pada kesempurnaan dari “kehambaan” seorang hamba Tuhan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Surat Filipi diperkirakan ditulis pada tahun 60-62 M saat Rasul Paulus dipenjara di Roma. Surat Filipi dikelompokkan bersama Surat Efesus, Kolose dan Filemon, yang ditulis oleh Rasul Paulus, sehingga keempat kitab ini disebut “Surat-Surat dari Penjara”. Karena itu Surat Filipi banyak menyinggung tentang penderitaan Paulus waktu di penjara, juga tentang keinginan Rasul Paulus untuk mempekerjakan Timotius dan Epafroditus dalam pelayanan di Filipi. Selain pujian dan terima kasih Rasul Paulus terhadap bantuan dan perhatian dari jemaat Filipi ketika ia di penjara. Kata “sukacitaku” menjadi bentuk pujian Rasul Paulus untuk jemaat.

Surat Filipi 2:1-11 jika dilihat dari struktur pemba-giannya berisi nasihat kepada jemaat untuk bersatu dan merendahkan diri (2:1-4). Serta berisi nyanyian Kristus (2:5-11).

Filipi 2:1-11 juga mengandung pesan dan nasehat Rasul Paulus kepada jemaat tentang penguatan iman agar jemaat tetap bersemangat dalam melayani dengan belajar dari kehambaan dan penderitaan Yesus Kristus. Nasihat dan semangat Rasul Paulus ini bermaksud mencegah bahaya perpecahan di tengah jemaat akibat masuknya pengaruh kepartaian (kelompok-kelompok) dalam kehidupan umat. Ajakan untuk hidup sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan diri sendiri, merupakan akibat dari suatu perpecahan yang terjadi di kalangan orang percaya. Karena itu sikap hidup bersama, yang menaruh pikiran dan perasaan dalam Yesus serta rendah hati harus dimiliki setiap orang Kristen untuk meredam perpecahan di tengah-tengah persekutuan orang percaya.

Sosok kehambaan Yesus yang menderita sengsara dan mati di kayu salib sangat tepat menjadi contoh dan teladan bagi orang percaya untuk mengetahui status kehambaan mereka sekaligus sebagai sarana untuk merekonstruksi semangat pelayanan, penginjilan lebih khusus semangat kebersamaan antar umat Tuhan. Rasul Paulus menyadari bahwa jemaat di Filipi sangat perlu untuk menghayati dan memiliki kembali semangat penderitaan Yesus Kristus dalam membangun persekutuan yang utuh, rukun dan damai. Sebab hanya orang-orang yang mengerti tentang kehambaan Yesus yang menderita itulah yang akan menghargai kesatuan. Keteladanan Yesus pada akhirnya menjadi kunci hidup yang harmonis bagi umat Tuhan.

Rasul Paulus dalam Filipi 2:1-11 menjadikan tokoh Yesus sebagai puncak dari kehidupan beriman orang percaya. Disebutkan dalam ayat 9-11 “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”. Pernyataan ini pada akhirnya menjadi penghormatan sekaligus pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Makna dan Implikasi Firman

Hamba yang menderita adalah gambaran kerinduan untuk menghayati bentuk-bentuk pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Hamba yang menderita adalah gaya hidup orang percaya yang ingin melanjutkan karya selamat Tuhan Yesus Kristus. Seorang hamba Tuhan yang percaya pada Kristus akan tetap setia melaksanakan perintah-perintah tuannya. Seseorang yang mengaku bahwa dia adalah hamba maka diapun harus mampu mencerminkan pola hidup seorang hamba Tuhan yaitu penuh pengorbanan, mencintai kebersamaan, menjaga persatuan, rela menderita, memiliki sikap dan perilaku hidup yang rendah hati.

Kehidupan orang percaya harus berpadanan dengan sikap Tuhan Yesus, yakni menampakkan perilaku yang menjunjung kebersamaan seperti sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tidak mencari kepentingan atau keuntungan sendiri, penuh puji-pujian dan rendah hati.

Hidup yang berpola pada Yesus Kristus akan menjadi kekuatan bagi persekutuan umat Tuhan untuk mencegah terjadinya perpecahan di tengah-tengah persekutuan. Kebersamaan yang saling menerima merupakan kekuatan bagi orang-orang percaya.

Sosok seorang hamba yang menderita sangat cocok untuk menolak bentuk-bentuk ketidakadilan di era reformasi. Sosok seorang hamba yang menderita seharusnya men-jadi gaya hidup dari para pejabat pemerintah dan gereja sehingga tidak terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Perusakan alam, trafficking, terorisme, kemiskinan, pengangguran adalah dampak dari adanya sikap dari pemimpin yang hanya mencari keuntungan diri sendiri.

Perpecahan yang terjadi dalam persekutuan umat Tuhan pada akhirnya melahirkan aliran-aliran gereja yang baru sebagai akibat dari kegagalan umat Tuhan dalam menjaga kebersamaan. Penyelewengan keuangan gereja, ketidakpatuhan pada tata gereja serta hilangnya keteladanan seorang hamba Tuhan (Pelsus), ketidak-setiaan umat Tuhan dalam membangun persekutuan, semuanya menjadi penyebab perpecahan gereja.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa yang saudara pahami tentang hamba yang menderita menurut Filipi 2:1-11, lebih khusus dari ayat 8 ?
  2. Menurut saudara apakah ketiadaan perilaku hamba yang “menderita”/merendahkan diri, sering menjadi penyebab terjadinya perpecahan di tengah jemaat dan masyarakat?
  3. Apa yang harus kita lakukan dalam membangun dan menjaga kebersamaan di tengah keluarga, jemaat dan masyarakat dengan pola kehambaan Yesus ? 

NAS PEMBIMBING: Roma 12:1 

POKOK-POKOK DOA:

  • Untuk hamba-hamba Tuhan agar mengikuti pola pelayanan Yesus yang mau menderita bagi umat manusia.
  • Untuk pemimpin-pemimpin bangsa agar mereka menjadi pemimpin yang selalu memiliki sikap rela berkorban untuk mensejahterakan rakyat.
  • Untuk umat Tuhan agar selalu memiliki jiwa dan semangat dari Tuhan Yesus yang berkorban bagi banyak orang.


TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: MINGGU SENGSARA 5 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : KJ No. 183 Menjulang Nyata Atas Bukit Kala

Ses Nas Pembimbing: Bukan Dengan Barang Fana

Ses Pengakuan Dosa: KJ No.29 Dimuka Tuhan Yesus

Ses Berita Anugerah Allah: NKB No 19 Dalam Lautan Yang Kelam

Ajakan Mengikut Yesus di Jalan Sengsara: NNBT No. 35 Tuhan Kau Gembala Yang Baik

Ses Doa, Pembacaan Alkitab:NKB No. 17 Agunglah Kasih Allahku

Persembahan: NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan

Penutup: KJ No.424 Yesus Menginginkan Daku

ATRIBUT

Warna Dasar Ungu dengan symbol XP (Khi-Rho), cawan pengucapan, salib dan mahkota duri.


Youtube |impactmusik
Source |MTPJ Sinode GMIM 2017


EmoticonEmoticon