5/14/2017

Kesetiakawanan Sosial; Tema Mingguan MTPJ 14 - 20 Mei 2017

goinspirit-mtpj

TEMA BULANAN :
“Persembahan Yang Menghidupkan”

TEMA MINGGUAN :
“Kesetiakawanan Sosial”

Bahan Alkitab : Nehemia 5:1-13

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Manusia adalah mahkluk sosial artinya manusia hidup berdam-pingan, bergaul dan bersosialisasi dengan sesama/orang lain. Manusia mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan sifat, karakter, sikap, cara pandang dan lain-lain. Di tengah kemajuan dan perkembangan dunia sekarang ini manusia makin berkompetisi/bersaing satu sama lain. Dampaknya sifat indivi-dualis/egois semakin terasa. Manusia sibuk dengan urusannya sendiri sehingga rasa peduli simpati dan empati dengan sesama semakin memudar malahan praktek mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain bukan lagi sebagai hal yang melanggar hukum dan ketetapan Tuhan tetapi sebagai hal yang lumrah. Yang menarik di sini, justru ditengah situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan ini ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Bahkan makin menjurus kepada keserakahan/tamak, menghalal-kan segala cara, dengan tujuan yang tidak baik. Sifat buruk ini memang sudah nampak sejak manusia jatuh dalam dosa. Karena mau mencari keuntungan dan mau menjadi orang kaya, maka orang lain dikorbankan. Orang serakah sama dengan orang yang mental/moralnya bobrok. Orang seperti itu sulit untuk mengendalikan diri karena perilakunya cenderung berbuat tidak adil, menindas, memeras, melecehkan sesamanya. Akibat-nya ada orang yang menjadi korban dan menderita. Jadi rasa kesetiakawanan soaial atau setia kawan antar sesama harus tetap dipelihara dan ditumbuh kembangkan terus menerus dalam kehidupan manusia. Kesetiakawanan Sosial harus menembus/ melewati perbedaan agama, suku/etnis, status sosial dan budaya. Seperti kata firman Tuhan yang merupakan Hukum Kasih yaitu  “Dan Hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22: 39.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Umat Allah yang dibebaskan dari pembuangan di Babilonia ke Yerusalem (Yehuda) memberi prioritas pada pembangunan Bait Allah. Kemudian membangan kembali/merestorasi tembok-tembok kota Yerusalam yang roboh/runtuh. Nabi Nehemia dipanggil Allah untuk membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem, walaupun ada tantangan. Nehemia sebagai pemim-pin yaitu Bupati Yudea juga mau membenahi pembangunan sosial ekonomi dan keagamaan.

Ternyata keadaan umat Yehuda yang kembali ke Yerusalem tidak memuaskan. Umat Yehuda menghadapi masalah sosial, ekonomi. Terjadi kelaparan dan situasi ekonomi serta sosial yang parah. Semua ini mengakibatkan terganggunya solidaritas sosial di kalangan umat Tuhan. Ada golongan umat yang tidak mempunyai sebidang tanah mengalami kekurangan pangan. Ada juga yang mempunyai tanah tapi telah digadaikan demi mempertahankan hidup. Ada lagi yang dibebani dengan keharusan membayar pajak atau upeti yang tidak ringan kepada Pemerintah Persia yang berkuasa pada waktu itu. Bahkan  praktek perbudakan di antara sesama umat. Dalam situasi dan kondisi yang begitu rumit itu, golongan yang berpunya seperti para pemuka dan penguasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari keuntungan dengan meminjamkan uang dan gandum kepada umat dengan bunga yang tinggi sehingga mereka tertekan dan menderita. Para pemuka dan penguasa tidak lagi memberlakukan hukum Allah terhadap sesamanya yang antara lain berbunyi: “Apabila sudaramu jatuh miskin sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engakau mengambil bunga uang atau ribah dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allah-Mu supaya saudaramu dapat hidup di antaramu (Imamat 25:35, lihat Keluaran. 22:25; Ulangan 23:19-20).

Karena itu Nehemia sangat marah ketika mendengar keluhan terjadinya ketidakadilan ekonomi dan sosial di antara bangsa Yahudi waktu itu. Kemarahan Nehemia ini menunjukkan rasa tanggung jawab, serta kepekaannya yang begitu peduli terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyat jelata. Kemarahan Nehemia ini sangat beralasan. Mengingat telah terjadi pemerasan, pele-cehan dan penjarahan dari para pemuka dan penguasa terha-dap hak milik rakyatnya sendiri di saat dilanda badai kelaparan

Dengan pertimbangan yang matang, Nehemia menggugat para pemuka dan pejabat yang melakukan ketidakadilan atas rakyat, sebangsanya sendiri. Gugatan Nehemia, berbunyi “Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!… Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi yang dijual kepada bangsa lain. Tetapi kamu ini justru menjual saudara-saudaramu…! (ay 7-8). Gugatan ini adalah tanda dari besarnya kepedulian Nehemia terhadap rakyat kecil serta menunjukkan jatidiri dan harga diri bangsa.

Makna dan Implikasi Firman

Manusia adalah ciptaan Allah yang serupa dengan Penciptanya. Karena itu ia harus diperlakukan sesuai dengan citra Allah sehingga mampu mencerminkan kemuliaan Allah.

Terpeliharanya hidup saling mengasihi tolong menolong meru-pakan hal yang sangat mendasar dalam menghadirkan persekutuan yang utuh dan harmonis. Ketika seseorang tidak hidup takut akan Tuhan maka yang akan terjadi adalah manusia menjadi serigala terhadap yang lain yaitu saling mengigit, menerkam tanpa peduli dengan yang lain. Karena itu memberlakukan hukum dan ketetapan Allan adalah bagian yang tidak bisa ditawar-tawar untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila kita mengalami ketidakadilan, penindasan dan peme-rasan pasti ini mengusik rasa kemanusiaan kita selaku orang beriman. Yang berkuasa menindas, memeras dan melecehkan mereka yang lemah serta kecil. Sehingga yang berkuasa makin berkuasa, sebaliknya yang kecil dan yang lemah makin terpuruk, tersisih oleh keserakahan para pemimpinnya.

Tentu menghadapi kenyataan seperti itu kita tidak akan berpangku tangan. Sebagaimana Nehemia menggugat para pemuka dan penguasa saat itu, demikian pula upaya kita menjunjung tinggi harkat serta martabat manusia dalam rangka keadilan dan kebenaran. Kita harus peka mendengar, mem-perhatikan dan menuntaskan setiap keluhan yang ada. Hal ini telah dicontohkan oleh jemaat di Makedonia. Meskipun mereka berada dalam berbagai penderitaan dan kemiskinan, namun kesetiakawanan mereka terhadap orang-orang kudus meluap-luap sehingga mereka ingin membantu (band 2 Korintus 8:1-5).

Hal Ini mengingatkan kita untuk tetap pada ketaatan dan kesetiaan melakukan kesetiakawanan sehingga tidak ada orang yang terabaikan karena Tuhan Yesus, Allah Sang Pembebas, Penebus dan Pemersatu senantiasa peduli dengan umat-Nya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa yang menyebabkan sehingga sebagian umat Tuhan “berteriak” dan mengalami penderitaan ?
  2. Mengapa solidaritas kemanusiaan atau kesetiakawanan sosial sekarang ini semakin merosot/mundur ? Bagaimana cara mengatasinya? 

NAS PEMBIMBING: Galatia 6:2 

POKOK – POKOK  DOA:

  • Pemerasan dan kekerasan
  • Peduli terhadap sesama manusia
  • Membangun kebersamaan

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah: NNBT. No. 6 Allah Bapa Yang Kumuliakan

Ses. Doa Penyembahan: KJ.No.367:5 Nama-Mu Yesus Suci Agung

Pengakuan Dosa: NNBT No.10 Ya Tuhan Yang Kudus

Janji Anugerah Allah: NNBT No.27 Ya Tuhan Engkaulah

Ses.Puji-Pujian: DSL.No.220 Terpuji Nama Tuhanku

Ses.Pembacaan Alkitab: KJ.No.425 Berkumandang Suara Dari Seberang

Ses Pengakuan Iman: KJ.No.381 Yang Mahakasih

Persembahan: KJ.No. 462 Tolong Aku Tuhan

Penutup: KJ.No.448 Alangkah Indahnya.

ATRIBUT:
Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dan salib berwarna kuning.




Source| MTPJ Sinode GMIM 2017


EmoticonEmoticon