7/23/2017

Mendidik Tanpa Kekerasan Tema Mingguan MTPJ 23-29 Juli 2017

pixabay

TEMA BULANAN : 
“Gereja yang Mencerdaskan”

TEMA MINGGUAN : 
“Mendidik Tanpa Kekerasan”

Bahan Alkitab : Amsal 29:1-27

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Mendidik adalah usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani dan rohani. Memang ada banyak model atau metode dalam mendidik yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan seperti yang disebutkan sebagai-mana tema: “Mendidik tanpa Kekerasan”. Pola atau cara mendidik tanpa kekerasan adalah sebuah sistem mendidik anak dengan tegas, bukan dengan keras apalagi menyakiti.

Dalam rangka membentuk generasi baru yang  tidak suka mendendam dan berputus asa, tetapi yang mandiri dan berkarakter baik; maka metode mendidik tanpa kekerasan akan memberi dampak yang positif, supaya anak menjadi berguna di dalam kehidupan ini.

Dalam realitas sehari-hari kita jumpai bahwa tindakan kekerasan makin bertambah, bahkan dalam nuansa pendidikan yang berproses di sekolah maupun di rumah tidak terlepas dari tindak kekerasan, dengan dalih mendidik.

Mendidik adalah bagian dari kerja pendidikan. Dalam sejarah pendidikan di negara Indonesia yang kita cintai ini, ada suatu masa kita mengalami bagaimana seorang pendidik secara keras; antara lain dengan memukul, mencubit dan memaki anak didiknya. Bukan hanya di sekolah terjadi seperti itu, tetapi juga ternyata di rumah yang harusnya penuh dengan cinta kasih dan kelembutan, terjadi kekerasan pendidikan dari orangtua terhadap anak-anaknya.

Dengan adanya perilaku seperti itu, maka baik lembaga pemerintah maupun lembaga gereja, terus berusaha memba-harui sistem pendidikan yang manusiawi dan bermartabat, melalui metode pendidikan yang diformulasikan secara baru, yaitu mendidik tanpa kekerasan.

PEMBAHASAN TEMATISPEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Amsal adalah kumpulan kata-kata hikmat yang berisi pengajaran atau pendidikan yang benar tentang tata krama, etika moral, pola hidup dan berbagai nasehat lainnya tentang bagaimana hidup benar sesuai petunjuk firman.

Bertindak bijak di dalam kehidupan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Allah dan menghindarkan diri dari berbagai perilaku yang tidak baik atau pola hidup yang dapat membinasakan adalah bagian dari mendidik tanpa kekerasan, yang diajarkan oleh pengamsal. Itu sebabnya inti dari peng-ajaran dalam kitab Amsal ini adalah hidup takut akan Tuhan.

Dengan hidup takut akan Tuhan, orang percaya akan selalu taat, setia dan melakukan apa yang Tuhan sukai, serta menjauhkan diri dari berbagai tindakan maupun perilaku yang tidak ber-kenan pada-Nya.

Secara khusus dalam tulisannya pada Amsal 29:1-27 yang dikumpulkan para pegawai Hizkia, raja Yehuda; Salomo menulis adanya perbedaan perilaku hidup antara orang yang bertindak bijak karena takut Tuhan dan perilaku orang fasik karena menjauhi hikmat.

Pengamsal menunjukkan bahwa orang bijak akan bertindak adil, bijaksana, benar, mencintai hikmat, membawa kedamaian, menghadirkan sukacita, jujur, memperhatikan orang lemah, berusaha mendapatkan keselamatan, mau menerima teguran/nasehat, berpegang pada hukum, rendah hati, dan berpengharapan.

Karena itu pengamsal dalam proses mendidiknya, secara gamblang mengingatkan orang percaya supaya bijaksana dalam berperilaku dan menjalani kehidupan. Sebab bagi pengamsal, orang bijak adalah pribadi maupun kelompok yang memilih jalan kehidupan yang benar dan memberi rasa nyaman, tenang serta bahagia. Itu berarti kehidupan orang bijak memberi jaminan akan indahnya kehidupan ini.

Sedangkan orang fasik ditunjukkan pada mereka yang keras kepala, sulit diatur atau suka atur sendiri, memandang remeh orang lain, hidup tidak menjadi teladan tetapi menyebabkan orang lain berkeluh kesah, tidak suka dinasehati, menjauhi hikmat, tidak patuh pada hukum/ peraturan/ketetapan firman, sombong/angkuh dan meresahkan kehidupan di antara sesama.

Pengamsal menyebutkan orang yang keras kepala dan menolak pengajaran yang benar dapat merugikan diri sendiri dan orang yang terus menerus melakukan kejahatan dan tidak mau menyadari keberdosaannya serta tidak hidup dalam pertobatan, akan terjerat dalam dosa dan membinasakan diri sendiri. Orang-orang dengan gaya hidup seperti itu disebut bebal, karena mereka tidak mau dinasehati dan membaharui diri, akibatnya bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga merugikan orang lain. Akibatnya timbul suasana ketidak nyamanan, hidup melarat bahkan dapat menghancurkan harapan.

Dari bagian Alkitab ini, kita mendapati bahwa pengamsal menunjukkan sebab dan akibat dari cara hidup dalam kefasikan, menyebabkan kekacauan.

Tetapi perilaku hidup orang bijaksana membawa sukacita. Kebijaksanaan hidup dikembangkan melalui pendidikan yang takut akan Tuhan dan diaplikasikan dalam praktek mendidik tanpa kekerasan.

Mendidik tanpa kekerasan memberi peluang bagi setiap pribadi atau kelompok, menjadi orang yang suka mendengar nasehat dan pengajaran yang benar, yang mendidik anak-anaknya supaya dapat memberi ketenangan, yang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Juga tidak hidup dalam dosa dan kecemaran, tetapi menjadi pemimpin yang membawa kese-jahteraan bagi rakyatnya. Pemimpin yang benar disukai rakyatnya, bahkan Tuhan berkenan dan memberkati kepe-mimpinannya.

Firman Tuhan adalah sumber pendidikan dan pedoman mendidik. Sejak penciptaan bumi dan manusia, Tuhan Allah telah mendidik dengan penuh kasih manusia ciptaan-Nya, supaya mereka hidup dan bertindak menurut aturan dan ketetapan yang dikehendaki-Nya.

Pendidikan dari Tuhan berlaku dari masa ke masa, dari generasi ke generasi dan dalam berbagai cara, termasuk melalui pemberitaan Firman.

Firman Tuhan dapat kita peroleh setiap hari melalui Alkitab yang kita miliki. Dari Alkitab kita belajar tentang didik mendidik, baik melalui tutur ucap maupun dengan pola perilaku sehari-hari.

Tutur ucap yang benar, yang lembut dan mengajar yang baik melalui tindakan yang patut diteladani, menuntun orang untuk bertindak baik dan benar dalam kehidupannya. Tetapi kata-kata yang kasar, tidak berhikmat dan tindakan yang suka mencari masalah, menjadikan orang suka memberontak dan tidak mau bersahabat.

Realitas ini memberi petunjuk bahwa mendidik tanpa kekerasan, membentuk pribadi yang patut diteladani dan menjadi berkat serta menciptakan suasana hidup yang damai sejahtera.

Mendidik tanpa kekerasan bukan berarti tidak boleh marah, tetapi dalam kelembutan mendidik, orangtua atau pendidik harus menyatakan ketegasannya, supaya anak atau anak didik dapat mengerti yang baik dan benar, serta tidak mengulang-ulang dosa atau sengaja melakukan kesalahan.

Efek dari mendidik tanpa kekerasan menolong seseorang untuk menjadi pribadi yang percaya diri, mampu memotivasi dan menginspirasi orang lain lebih khusus membuat orang dapat meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini. Inilah cara Allah dalam Yesus Kristus yang telah mendidik kita dengan kasih ( Titus 2:11-12). 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Bagaimana konsep mendidik menurut bacaan Alkitab kita saat ini?
  2. Apakah model mendidik tanpa kekerasan tergambar dalam bagian Alkitab ini?
  3. Bagaimana bentuk atau metode mendidik tanpa kekerasan dimasa kini?


NAS PEMBIMBING : Titus 2:11-12

POKOK – POKOK  DOA :

  • Orang percaya semakin mencintai Firman Tuhan, supaya dapat mendidik dengan baik dan benar.
  • Tidak hidup dalam kefasikan, tetapi berlaku bijaksana.
  • Metode atau sistem mendidik tanpa kekerasan makin dikembangkan dalam kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat. 


TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK IV 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan  :  NNBT No 4 Naikkan Doa Pada Allah

Pembukaan:  KJ No 13  Allah Bapa, Tuhan

Pengakuan Dosa dan Pengampunan: NNBT No 10  Ya Tuhan Yang Kudus’

Doa, Pembacaan Alkitab dan Khotbah: KJ No 356  Tinggallah Dalam Yesus’

Persembahan:  KJ No 288  Mari, Puji Raja Sorga

Doa Umum :  KJ No 362  Aku Milik-Mu, Yesus Tuhanku

Penutup:  KJ No 424  Yesus Menginginkan Daku

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.


Source| MTPJ Sinode GMIM 2017

7/09/2017

Pengucapan Syukur yang Berkenan pada Tuhan; Tema Mingguan MTPJ 9-15 Juli 2017

goinspirit-menjabarkan trilogi pembangunan jemaat

TEMA BULANAN : “Gereja yang Mecerdaskan”

TEMA MINGGUAN : “Pengucapan Syukur yang Berkenan pada Tuhan”

Bacaan Alkitab : Ulangan 10:12-22

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Sering terjadi ketika waktu pengucapan syukur jemaat akan dirayakan, para penulis berita mulai memperkirakan berapa jumlah uang yang akan dihabiskan dalam perayaan pengucapan syukur tersebut. Hal ini dapat dipahami, sebab jemaat yang berpengucapan syukur (walau tidak semua) sadar atau tidak sudah terjebak pada nuansa pesta pora yang didorong oleh sikap hidup hedonisme, suatu sikap hidup yang mengutamakan kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama dalam hidup. Kalau begitu adanya berarti pengucapan syukur jemaat tidak tepat sasaran. Harusnya jemaat sebagai Gereja yang Kudus, menyatakan syukur kepada Tuhan Sang sumber berkat yang sudah memberkati hasil “panen” masyarakat dalam bentuk apapun dan bukan untuk memuaskan keinginan manusia atau hanya memenuhi kebiasaan ritual bahwa setiap tahun harus merayakan Pengucapan Syukur. Kalau Tuhan Allah yang menjadi pusat pujian atas hasil yang didapat maka bukan persoalan berapa uang yang harus dihabiskan tetapi bagaimana kita mengucap syukur yang benar agar tidak malu dikatakan orang sebagai jemaat yang tidak tau dan mau bersyukur atas berkat Tuhan.

Ada yang melihat perayaan pengucapan syukur itu dari sisi kesenangan dan kenikmatan semata, maka tidak jarang ada jemaat yang lebih mengutamakan: makan-minum, para tamu, yang akhirnya tidak sempat datang beribadah bersama; begitu pula dengan pemberian tanda ucapan syukur pada Tuhan, kebanyakan berbanding terbalik dengan persiapan konsumsi di rumah. Biaya konsumsi begitu besar jumlahnya sementara persembahan kepada Tuhan sebaliknya.

Memperhatikan perayaan pengucapan syukur tersebut, sudah selayaknya diperlukan pemahaman tentang esensi dari pengucapan syukur, karena itu perenungan minggu ini berada dalam tema: “Pengucapan Syukur yang Berkenan Pada Tuhan”

PEMBAHASAN TEMATISPEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Perikop ini Ulangan 10:12-22, berisi perkataan Musa kepada umat Israel tentang apa yang akan mereka lakukan sebagai umat Allah di tanah perjanjian. Yaitu bahwa bangsa Israel harus beribadah hanya kepada Allah saja dengan cara takut akan Tuhan, hidup menurut jalan yang ditentukan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan (ayat 12). Berulang kali Musa mengatakan pentingnya sesuatu yang baik, yang berasal dari hati dalam menjalin keakraban dengan Tuhan (lihat. Ulangan 4:29, 6:5).Tentu maksudnya adalah hati yang mengasihi Allah. Karena Alkitab menyatakan bahwa dari hatilah terpancar kehidupan” (lih. Amsal 4:23; band. Lukas 6:45). Oleh sebab itu kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan. Hati dapat dimengerti sebagai sesuatu yang berisi tentang apa yang dipikirkan (al. insaf akan sesuatu di dalam hati mereka Ulangan 8:5, percaya dalam hati Roma 10:9), perasaan (al. hati yang takut: Yosua 5:1:, hati yang rendah: Matius 11:29) dan kehendak seseorang (al. hati yang dengan setia mencari Tuhan (1 Tawarikh 22:19), hati yang ingin melakukan sesuatu (Roma 10:1).

Bila umat menuruti perintah dan ketetapan Tuhan dengan hati yang menghormati Allah maka keadaan mereka akan menjadi lebih baik (ayat 13). Musa juga meminta kepada umat Allah untuk tetap mengasihi Dia dengan beribadah sungguh-sungguh kepada-Nya, menjadikan diri mereka sebagai umat Tuhan yang dengar-dengaran dan suka menuruti perintah Tuhan (tidak tegar tengkuk) yang ditandai dengan “sunat hati” (menyadari anugerah Allah yang mengasihi, memilih mereka, sehingga mereka berbalik dari keberdosaan dan hidup dalam pertobatan).

Konsekwensi dari sunat hati menghasilkan kesadaran baru terhadap panggilan sebagai umat yang dikasihi Allah untuk peduli kepada semua orang, terutama mereka yang lemah, yaitu anak yatim, janda, orang asing (ayat 17-19).

Juga kepada umat diajak untuk sungguh-sungguh hidup takut akan Tuhan, beribadah dan menjadikan Dia pusat penyembahan, pokok puji-pujian dan ucapan syukur umat karena perbuatan-perbuatan-Nya yang besar sangat terbukti diantaranya telah membuat umat Israel menjadi banyak dan bertambah-tambah keturunan mereka. (ayat 20-22).

Makna dan Implikasi Firman

Umat Allah sebagai “Gereja” yang Kudus, terpanggil untuk selalu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, menuruti apa yang diperintahkan Tuhan melalui hamba-hamba-Nya. Artinya kehidupan orang percaya harus diwarnai dengan sikap yang mengasihi Allah.

Mengasihi Tuhan dengan segenap hatimerupakan sikap dasar yang sangat dibutuhkan dalam meningkatkan spiritualitas beriman warga gereja.Sikap tersebut akan membentuk kehidupan keluarga Kristen yang semakin hari semakin baik dan berkenan kepada Tuhan Allah.

Pengalaman beriman umat bersama Tuhan Allah dalam berbagai segi kehidupan perlu sekali untuk dikenang sebagai refleksi iman bagi kehidupan manusia dewasa ini. Misalnya dalam hal mengucap syukur, bersukacita atas segala berkat yang diberikan-Nya. Bahwa karena Tuhanlah sehingga kita boleh bersukacita (band.Fil.4:5). Dia lah pusat iman orang percaya.

Pengucapan syukur adalah kesempatan terbaik untuk mengingat kasih setia Tuhan dalam kehidupan kita, memeliharajati diri sebagai umat Tuhan yang diselamatkan karena kemurahan Tuhan: dengan demikian pengucapan syukur haruslah dirayakan dengan ramah, santun, aman, damai, nyaman dan tidak lupa diri (mabuk-mabukan, boros, pesta pora dan lain-lain)

Tuhan Allah menghendaki umat-Nya taat beribadah kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai pokok puji-pujian dan hormat di atas segala-galanya.Apa lagi dalam menghadapi kenyataan hidup yang dari waktu ke waktu selalu menawarkan kesenangan duniawi yang mengiurkan.

Seiring dengan perkembangan zaman, sikap peduli terhadap mereka yang lemah mulai menurun. Manusia semakin mementingkan dirinya sendiri dari pada peduli terhadap sesama yang lemah seperti yang dilakukan Yesus Kristus. Untuk itu Gereja perlu selalu mengingatkan umatnya agar terus belajar Firman Allah yang menyelamatkan itu. Tuhan Allah dalam Yesus Kristus selalu peduli terhadap manusia. Untuk itu kebaikan hati antar sesama manusia harus ditumbuhkembangkan (band. Filipi 4:5).

Pertumbuhan dan perkembangan umat Tuhan bukanlah karena usaha manusia semata-mata tapi itu hanya karena kemurahan Tuhan yang punya rencana indah bagi umat-Nya. Dengan mengimani karya Tuhan ini umat diajak untuk hidup selalu menyenangkan dan memuliakan Tuhan.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa saja yang anda ketahui tentang mengucap syukur kepada Tuhan menurut perikop ini?
  2. Jelaskan praktek pengucapan syukur yang dilakukan oleh jemaat selama ini yang anda ketahui.
  3. Bagaimana seharusnya penerapan pengucapan syukur yang baik yang harus dilakukan oleh jemaat. 

POKOK – POKOK  DOA :

  • Agar umat Tuhan benar-benar mengasihi Allah dengan segenap hati dalam hidupnya. Karena ada begitu banyak umat yang masih hidup dalam kesenangan duniawi.
  • Selalu bersyukur untuk segala sesuatu yang diberikan Tuhan kepada umat. Cara ini akan membentuk jemaat yang selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.
  • Orang percaya menjadikan Tuhan Allah sebagai pokok pujian, syukur dan hormat agar hidup kita kini dan akan datang di naungangi Tuhan. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah: KJ.No.1 Haleluya! Pujilah

Doa Penyembahan: NNBT No. 3 Mari Kita Puji Allah

Pengakuan Dosa: NNBT No. 10 Ya Tuhan Yang Kudus

Janji Anugerah: NKB.No.34:1 Setia-Mu, Tuhanku, Tiada Bertara

Puji-Pujian: NNBT No. 10 Pujilah Tuhan, Sang Raja

Pembacaan Alkitab: Bimbinglah Daku Ya Yesus

Pengakuan Iman: KJ.No.38 T’lah Kutemukan Dasar Kuat

Persembahan: NNBT No.15 Hai Seluruh Umat Tuhan

Nyanyian Penutup: NKB. No. 208 Tabur Waktu Pagi 

ATRIBUT :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu diatas gelombang.



Youtube |ODey Hymns


Source |MTPJ Sinode GMIM 2017

7/02/2017

Pola Hidup Sederhana dalam Pemeliharaan Tuhan; Tema Mingguan MTPJ 2-8 Juli 2017

goinspirit-menjabarkan trilogi pembagunan jemaat

Tema Bulanan: Gereja yang Mencerdaskan

Tema Mingguan: Pola Hidup Sederhana dalam Pemeliharaan Tuhan

Bahan Alkitab: Keluaran 16:13-24


ALASAN PEMILIHAN TEMA


Gaya hidup yang konsumtif mewah dan boros telah mewarnai kehidupan manusia diera "Postmodern"saat ini. Ada banyak kebutuhan hidup yang dahulunya bukan kebutuhan pokok telah menjadi kebutuhan pokok. Oleh karena meningkatnya kebutuhan-kebutuhan hidup manusia, maka berimplikasi pada usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Alam ciptaan dijadikan objek untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan manusia. Alam ciptaan Tuhan rasanya tidak cukup memenuhi kebutuhan manusia karena perilaku manusia yang "tamak". Sebenarnya Alam ciptaan Tuhan cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hidup manusia, akan tetapi rasanya tidak cukup untuk seorang yang tamak. Tamak adalah keinginan untuk memperoleh sesuatu yang sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri.

Orang yang "tamak"adalah orang yang merasa kuatir akan masa depannya. Hal ini berarti bahwa orang tersebut tidak percaya pada Providentia Dei (pemeliharaan Tuhan atas ciptaan), sehingga mereka ingin hidup dalam kelimpahan ekonomi. Hidup dalam kelimpahan dapat menggoda manusia untuk jatuh dalam nafsu duniawi. Satu hal yang dapat mengingatkan manusia akan bahaya distorsi (pemutarbalikan suatu fakta atau aturan) kelimpahan dalam hidup adalah pemahaman dari sudut pandang ekonomi yaitu manusia menghadapi keerbatasan sumber daya alam. Ketika manusia hidup dalam kelimpahan dan kemakmuran, manusia jatuh dalam cobaan untuk menyalahgunakan kemakmuran sebagai karunia Tuhan dengan boros, tamak dan pesta pora tanpa kontol iman dan tanpa ucapan syukur yang didasarkan dalam iman. Pola hidup seperti ini adalah tanda tidak percaya pada pemeliharaan Tuhan serta mengakibatkan semakin terbatasnya sumber daya alam yang disediakan Tuhan. Sebagai jemaat yang diberikan roh hikmat dan kecerdasan tentunya mempunyai pandangan tentang hidup kini dan akan datang yang bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Hidup yang sederhana dan tenang, tidak kikir tetapi hemat dan sederhana menjadikan manusia hidup dalam kerendahan hati dihadapan Tuhan.

Dalam keprihatinan gereja terhadap realita kehidupan manusia di era postmodern yang mempengaruhi oleh gaya konsumtif dan ketamakan maka "pola hidup sederhana dalam pemeliharaan Tuhan" menjadi panggilan Iman setiap warga gereja.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Keluarnya umat Israel dari tanah perbudakan di mesir merupakan peristiwa utama sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama. Melalui peristiwa ini, Tuhan Allah menggenapi janjiNya kepada bapak leluhur Israel bahwa Ia memberikan tanah kepada mereka dan keturunannya untuk menjadi bangsa yang besar. Pada hari kelima belas bulan kedua setelah keluarnya bangsa Israel di Mesir tibalah mereka di padang Gurun Sin yang terletak diantara Elim dan gunung Sinai (Kel 16:1). Ditempat inilah umat kekurangan makanan sehingga mereka bersungut-sungut kepada Musa dan Harun dengan membandingkan kehidupan mereka di Mesir yang tersedia makanan bagi mereka. Sungut sungut umat Israel sebenarnya itu ditujukan kepada Tuhan karena ketidakpercayaan pada "Provedentia Dei"(pemeliharaan Allah bagi mereka), merasa kuatir akan kebutuhan hidup dan masa depan. Mereka takut akan mati kelaparan dipadang gurun. Sehingga Tuhan berfirman bahwa Ia akan menurunkan hujan roti dari langit (ayat 4) untuk menjawab rasa kuatir akan masa depan mereka. Roti dari sorga disebut orang Israel dengan "manna"merupakan sesuatu yang halus seperti sisik, halus seperti embun beku dibumi (ay 14). "Manna"adalah sejenis makanan yang ada disemenanjung Sinai yang dihasilkan oleh sejenis serangga yang hidup atas sejenis semak atau pohon tamarisk yang rasanya seperti kue madu, warnanya putih seperti embun beku, berbentuk serpihan tipis. Bagi orang arab makanan ini disebut "mann"hampir sama dengan kata "man" bahasa Ibrani yang berarti apakah ini (ay 15). Namun "manna"yang disemenanjung Sinai tidak sama dengan apa yang diberikan Tuhan pada umat Israel karena jumlahnya sangat banyak dan menjadi makanan umat israel selama 40 tahun, yang akan menjadi busuk kalau ditinggalkan sampai pagi.

Pemberian roti (manna) pada pagi hari dan daging (burung puyuh) pada waktu petang bagi umat Israel adalah cara Tuhan untuk memuaskan mereka dengan makanan sekaligus menuntut umat supaya percaya akan pemeliharaan Allah dan taat pada hukumNya serta melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan bagi mereka. Kuasa Tuhan yang membebaskan mereka di Mesir akan berlanjut juga di padang gurun lewat kuasa pemeliharaan Tuhan. Pemberian burung puyuh dan manna di padang gurun menunjukan bahwa:

  1. Tuhan dapat memberikan makanan kepada umatNya dipadang gurun, yaitu tempat dimana rupa-rupa makanan tidak mungkin diperoleh.
  2. Tuhan memberikan istirahat, berhenti dari aktivitas pekerjaan untuk sehari adalah bagian dari maksud Tuhan supaya umat melakukannya.
  3. Tuhan harus dipercayai dan ditaati terus menerus oleh umatNya.
Ketika Tuhan memberikan roti (manna) Tuhan berfirman "Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya segomer setiap orang". (1 gomer=3,6 liter); Adalah cara Tuhan untuk mendidik umatNya untuk tidak hidup dalam ketamakan (mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri). menjauhkan diri dari rasa kuatir tentang kehidupan serta belajar untuk melihat kebutuhan hidup sesama, supaya tidak ada yang berkelebihan dan tidak ada yang berkekurangan. Hal ini dinyatakan dengan perkataan Musa "Seorang pun tidak boleh meninggalkannya sampai pagi pada keesokan harinya mereka akan berulat dan berbau busuk". Menjadi pekerjaan yang sia-sia ketika mengumpulkan banyak karena tidak akan berguna lebih baik diberikan pada orang yang membutuhkannya, sehingga yang dibutuhkan adalah pola hidup yang sederhana. Akan tetapi, umat melanggar perintah Tuhan, mereka terpengaruh dengan kemakmuran lalu menjadi tamak dengan mengumpulkan melebihi dari kebutuhan hidup mereka. Akibatnya, Musa memarahi umat Israel karena ketidaktaatan mereka kepada firman Tuhan. Mereka kuatir akan hari esok dan tidak percaya kan pemeliharaan Tuhan. Dengan roti yang berulat dan berbau busuk akibat dari mengumpulkan roti (manna) melebihi keperluan mereka, umat menjadi sadar akan ketidaktaatan mereka pada perintah Tuhan dan hidup sesuai dengan apa yang yang dikehendaki Tuhan. Memungut dua kali lipat pada hari keenam untuk persediaan pada hari ketujuh (sabat dalam bahasa Ibrani "syabbaton") tanpa berulat dan berbau busuk adalah bukti kemahakuasaan dan pemeliharaan Tuhan pada umatNya serta menekankan bahwa hari sabat itu dirayakan saat umat berhenti dari pekerjaan dan beristirahat.

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

  • Hidup dalam kekuatiran membuat umat manusia tidak percaya akan pemeliharaan Tuhan. Kekuatiran timbu karena orang takut akan masa depannya. Pemeliharaan Tuhan menyatakan bahwa Tuhan adalah Pencipta yang terus menerus melanggengkan tugasNya untuk merawat ciptaan. Allah bekerja dalam ciptaanNya untuk menunjukkan kebaikan, kebenaran dan penghakimanNya untuk menolong dan menguji kesabaran hamba-hambaNya.
  • Gereja adalah tempat Allah sendiri bekerja; di dalamnya Allah menyatakan pemeliharaan; Gereja adalah panggung utama dari pemeliharaan Allah dimana proteksi, penjagaan dan pertolongan Tuhan terlekat dalam gereja lewat Yesus Kristus. "Providensi"(pemeliharaan Allah) menuntun warga gereja untuk mempercayai Tuhan secara terus menerus sebab setiap hari Tuhan memenuhi kebutuhan hidup manusia.
  • Bagi umat yang melanggar/meragukan akan pemeliharaan Tuhan adalah orang yang rakus/tamak yang mementingkan diri sendiri, berusaha supaya semua kebutuhan hidup dijamin untuk masa depan. Sedangkan yang lain lapar dan miskin. Pemeliharaan Tuhan adalah untuk membagikan berkat yang diterima dari Allah bukan untuk disimpan, dengan demikian manusia menjadi berkat bagi sesamanya. Sehingga orang yang mengumpulkan banyak tidak berkelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan supaya ada keseimbangan (band. 2 Korintus 8:15)
  • Perasaan yang paling sulit dikendalikan manusia adaah "rasa cukup", ketika perasaan ini tidak dapat dikendalikan maka manusia akan hidup boros, berfoya foya serta tamak sehingga manusia jatuh kedalam dosa. Perasaan rasa cukup itu harus dikendalikan dengan pola hidup yang sederhana dalam mengelola segala berkat yang telah diberikan oleh Tuhan. Pola hidup hidup yang sederhana dalam mengelola segala berkat yang telah diberikan oleh Tuhan. Pola hidup sederhana adalah panggilan beriman pengikut Kristus untuk menjawab pergumulan masa kini dan masa depan. Tuhan Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk berdoa: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya (Matius 6:11). Doa ini menunjukkan bahwa umat Tuhan tidak perlu kuatir akan kebutuhan hidup sebab semuanya ada dalam pemeliharaan Tuhan. Burung-burung diudara yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung diberikan makan oleh Tuhan apalagi kita manusia (Matius 6:26)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Jelaskan bentuk-bentuk pemeliharaan Tuhan Israel dan apa tujuan serta akibatnya jika mereka tidak taat?
  2. Apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan pola hidup yang sederhana sebagai ketaatan pada kehendak Tuhan?
NAS PEMBIMBING: Matius 6:11

POKOK POKOK DOA
  • Jemaat yang merasa kuatir akan hidup dan masa depannya.
  • Memampukan orang Kristen untuk tidak terjebak pada pola hidup yang boros dan borfoya-foya.
  • Memampukan jemaat untuk terus percaya pada pemeiharaan Tuhan dan mempraktekkan pada pola hidup sederhana dalam mengelola berkat-berkat Tuhan.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
HARI MINGGU BENTUK I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Persiapan: NNBT No 2 Dunia tercipta Oleh Karna TuhanMu
Ses Nas Pembimbing: NNBT No 9 Ku Akan Selalu Bersyukur
Ses Pengakuan Dosa: NKB No 14 Jadilah Tuhan KehendakMu
Ses Berita Anugerah Allah: NKB No 49 Tuhan Yang Pegang
Ses Hukum Tuhan: KJ No 383 Sungguh Indah Kabar Mulia
Persembahan: DSL No 179 Selaku Orang Pengetam
Penutup: Ku Pandang Hari Esok

ATRIBUT

Warna dasar Hijau dengan simbol salib dan perahu datas gelombang.


Youtube | SE Samonte
Source| MTPJ Sinode GMIM 2017

6/25/2017

Tubuh adalah Bait Allah; Tema Mingguan MTPJ 25 Juni-1 Juli 2017

goinspirit-menjabarkan trilogi pembangunan jemaat

TEMA BULANAN :
“Gereja yang Mencerdaskan”

TEMA MINGGUAN :
“Tubuh adalah Bait Allah"

Bahan Alkitab : 1 Korintus 3:10-23

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang utuh sempurna komplit dengan raga( badan, tubuh, fisik) tapi juga dengan jiwa (psikis) sebagai satu kesatuan dari kepala sampai kaki, dari bagian depan dan belakang, bagian luar maupun dalam, dari hati dan pikiran. Tubuh kita adalah anugerah Tuhan yang mulia, indah, bagus, mempesona, yang harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Menjaga dan merawat tubuh adalah kewajiban dari setiap orang, sebab apabila tubuh ini tidak dirawat akan mengalami gangguan, sakit atau disfungsi organis. Upaya merawat tubuh, disebut oleh banyak orang dengan menjaga kesehatan. Kesehatan secara badani/jasmani sangat menentukan kesinambungan hidup untuk selanjutnya. Didalam tubuh ada banyak organ/bagian yang mempunyai fungsi dan peran masing-masing, yang semuanya sudah diatur oleh Tuhan secara harmoni dan sempurna agar manusia dapat bergerak, ber-aktifitas, berkomunikasi dan sebagainya. Karena itu manusia diberi hikmat oleh Tuhan untuk menghargai tubuh ini, karena tubuh ini juga adalah rumah/bait Allah; tempat berdiamnya Roh Tuhan.

Ada realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia dengan tindakan merusak tubuh secaraformal, brutal, masif dan permanen, baik secara personal maupun public seperti mem-bunuh orang lain, bunuh diri, memperkosa, menyiksa diri, mengkonsumsi narkoba, minuman keras dan sebagainya. Kenyataan ini perlu disikapi, diantisipasi dan diklarifikasi dengan pemahaman-pemahaman yang mendasar supaya teratasi, sehingga setiap orang akan tiba pada konsep yang benar tentang tubuh ini sebagai karunia yang sangat spektakuler dari Sang Pencipta. Itulah sebabnya tema minggu ini “Tubuh adalah Bait Allah” perlu direnungkan dalam rangkaian Hari Anti Narkoba sedunia, Pentakosta, HAPSA PKB dan HUT PI dan Pendidikan Kristen.

PEMBAHASAN TEMATISPEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Rasul Paulus dalam perjalanan penginjilan, sempat tinggal di Korintus selama delapan belas bulan bersama Priskila dan Akwila. Korintus adalah pusat perdagangan dan perniagaan dengan dinamika yang kompleks  meliputi aspek ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan seni. Tingkat peradaban dan intelektualitas masyarakatnya mumpuni, beragam (heterogen), namun dari segi moralitas memiliki julukan “korinthiazesthai” yang berarti gaya hidup orang Korintus yang mabuk-mabukan dan penyelewengan asusila yang tak terkendali. Semua ini sangat diketahui oleh Paulus

I Korintus pasal 3:10-23 tentang dasar dan bangunan yang penekanannya bukan pada fisik bangunan yang sebenarnya melainkan pada substansi tubuh manusia yang adalah bait Allah. Karena itu ada beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan di sini ialah dasar fondasi), yaitu alas dari setiap bangunan (building) yang didirikan. (bnd Ibrani 3:4). Bait rumah adalah suatu bentuk tempat tinggal yang layak dari manusia. Hikmat, akal budi, pikiran (Yun: nous) adalah anugerah Tuhan kepada setiap orang, agar ia mampu membedakan mana yang baik dan tidak. Tubuh (Yun: soma) adalah keseluruhan jasad manusia yang adalah milik Tuhan, karena tubuh itu juga tempat berdiamnya Roh Kudus, tubuh itu anggota Kristus (lihat IKorintus 6: 15,19-20). Kudus (Ibr: Kadosy, suci) adalah sesuatu yang disendirikan, tidak terkontaminasi dengan yang cemar. Pencerahan Paulus dalam suratnya menunjuk pada dasar bangunan itu ialah Yesus Kristus. Model/disain/tipe apapun bangunan yang akan didirikan selanjutnya, entah dari emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering dan jerami, sekali kelak akan kelihatan resiko/konsekwensi dan kwalitasnya. Korespondensi Paulus lebih fokus pada tubuh itu sebagai anugerah, karena tubuh juga bait Allah dan bait Allah itu ialah kamu dan harus kudus. Kekudusan tubuh itu dipakai sebagai senjata kebenaran(lihat Roma 6:13), sehingga siapa yang ingin membinasakan bait Allah, Allah akan membinasakan dia(bnd 2 Korintus 6:16).

Makna dan Implikasi Firman

Perkembangan dan kemajuan dunia, membuat manusia hidup di muka bumi ini sering melakukan eksperimen terhadap diri/tubuh supaya kuat, eksis, dan dapat bertahan (survive) di suatu tempat dan masa. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama: tubuh ini harus menerima makanan dan minuman yang sehat bukan mengkonsumsi miras, ganja, menghirup lem Ehabond, sampai memakai NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat-zat adiktif). Kedua: tubuh ini harus dijaga bukan dibinasakan dengan bunuh diri apapun bentuk dan alasannya. Ketiga: tubuh ini jangan disiksa, dirusak dan dipermainkan dengan benda-benda tajam, termasuk jualbeli organ, ganti kelamin, dijajakan, dieksploitasi, LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) dan sebagainya. Persoalan yang kompleks ini terjadi di sekitar kita dan mengancam generasi serta mengundang malapetaka; derita dan lara.

Kondisi riil di atas, perlu ada solusi dengan pencerahan firman seperti perikop ini. Intinya bagaimana memahami arti tubuh ini sebagai anugerah yang termulia, karena tubuh adalah bait Allah; Allah telah menyusun organ satu dengan yang lain begitu baik dan berfungsi secara akurat. Allah bermaksud agar tubuh ciptaannya diperhatikan; hargai, jaga, rawat dan pelihara, supaya berguna. Sebagai warga gereja, pergumulan ini semakin berat karena ada generasi terperosok ke dalam jurung kehancuran ragawi dan kebinasaan jiwa. Firman Tuhan tegas; siapa yang membinasakan tubuh secara sengaja, terprogram dan mendasar, Allah Sang Pencipta (Creator) itu akan meminta pertanggungjawaban dan membinasakan. Pentakosta menunjuk pada tubuh (murid-murid) yang mendapat karunia Roh Kudus. HAPSA PKB mengingatkan warga untuk memproteksi gene-rasinya agar tidak mengeksploitasi tubuh ini pada perca-bulan dan pemerkosaan. HUT Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen, merekomendasikan agar pendidikan itu jangan diabaikan melainkan dimaksimalkan dalam keluarga dan jemaat oleh gereja. Hari anti narkoba sedunia memberi signal bahwa masalah ini sangat krusial dan perlu kolaborasi menang-gulanginya. Catatannya bukan hanya di atas kertas melainkan ada gerakan sosialisasi, antisipasi, preventif dan protektif dari gereja dan pihak lainnya. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa makna tubuh sebagai bait Allah dalam perikop ini dihubungkan dengan tubuh kita masing masing?
  2. Apa yang dapat dilakukan gereja terkait dengan berbagai persoalan menyangkut narkoba, bunuh diri, percabulan dan pembunuhan, yang merusak tubuh sebagai bait Allah? 

NAS PEMBIMBING: Ibrani 3:4 

POKOK – POKOK  DOA :

  • Keluarga-keluarga agar diberi kemampuan untuk mendidik anak-anak.
  • Generasi muda agar tidak terpengaruh dan terbawa arus dunia demoralisasi.
  • Pemerintah dan pihak yang berkompeten untuk terus memberantas jaringan narkotika.
  • Semua pihak yang terlibat dalam penyalagunaan narkotika untuk bertobat dan boleh kembali mendapatkan masa depan yang baik. 


TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK IV

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : NNBT No.1 Pujilah Dia, Pujilah Dia

Ses Nas Pembimbing: NKB. 14. Jadilah Tuhan KehendakMu

Seb Pengakuan dosa: KLIK 173 Sejauh Timur Dari Barat

Ses Pengakuan dosa dan Pengampunan: KLIK 386 Sperti yang Kau ingini

Persembahan: KJ.No. 424 Yesus Menginginkan Daku

Nyanyian Penutup: KJ.No. 364  Berserah Kepada Yesus 

ATRIBUT :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.




Source| MTPJ Sinode GMIM 2017

5/15/2017

Harga Diri; RHK Senin 15 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Senin 15 Mei 2017
Nehemia 5:5

Firman Tuhan yang baru saja kita baca dan dengar sangat memprihatinkan serta menggugah perasaan kita. Pasti membuat kita merinding.  Mengapa? Karena harga diri dan kemanusiaan manusia di injak-injak, hak asazi manusia di lecehkan. Ternyata kepentingan diri atau egois mengorbankan ikatan persaudaraan dan rasa kebangsaan.  Umat menderita lahir batin, sebab walaupun mereka sedarah sedaging/ bersaudara dan satu bangsa tapi perbudakan atau jual beli manusia tidak dapat dihindari. Bahkan anak gadis dibiarkan menjadi milik orang kaya atau yang berkuasa. Mereka menyerah tanpa daya pada keadaan karena kemiskinan, kemelaratan, kekurangan makan. Mereka diperas diperlaku-kan secara tidak manusiawi, karena harta milik mereka berupa ladang dan kebun anggur sudah berada dalam genggaman orang lain yaitu orang-orang kaya dan para penguasa.

Di tengah kemajuan dan di era modernisasi ini, tentu saja praktek/gambaran di atas masih dipraktekkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Penjualan bayi karena kemiskinan yang melanda. Trafiking atau penjualan perempuan terjadi dimana-mana. Sebagai warga gereja dan orang percaya kita diingatkan agar supaya tetap hidup rukun, damai “torang samua basudara.” Ciptakan rasa saling mengasihi, menghormati dan menghargai satu sama lain. Walaupun di antara kita ada perbedaan baik agama, suku, budaya, status sosial, jabatan dan lain-lain.. Amin. 

Doa: Allah yang Mahakasih ampunilah mereka yang menginjak-injak harga diri dan yang melecehkan hak asazi manusia. Mampukanlah kami untuk mengasihi sesama manusia. Amin.  



Source| RHK Sinode GMIM

5/14/2017

Teriakan yang Menggugah; RHK Minggu 14 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Minggu 14 Mei 2017
Nehemia 5:1-4

Orang yang kekurangan makanan dan lapar pasti mengeluh dan berteriak minta tolong. Sebab mereka mengalami penderitaan. Kebanyakan mereka adalah orang miskin dan yang berkurangan. Itulah yang terjadi bagi sebagian umat Tuhan yang baru saja pulang dari pembuangan di Babilonia, mereka menjerit dan mengeluh karena kekurangan makanan. Ada yang menggadaikan  ladang, kebun anggur dan rumah atau harta milik untuk mendapatkan bahan pangan. Ada yang meminjam uang kepada rentenir/pemuka/tokoh masyarakat dan penguasa untuk membajar pajak yang tinggi kepada pemerintah Persia. Mereka bergumul dan menderita. Tentu saja kita merasa prihatin dengan kejadian/kenyataan seperti itu. Di sekitar kita banyak orang miskin  yang menjerit, mengeluh dan berteriak minta tolong di tengah penderitaan karena tertindas dan lapar atau kekurangan makanan. Demikian juga banyak saudara-saudara kita yang karena bencana alam: banjir, tanah longsor, gempa bumi mengeluh dan berteriak karena belum mendapatkan bantuan makanan.

Sebagai gereja, keluarga orang percaya kita harus peka dan prihatin dengan penderitaan saudara dan sesama kita.  Karena itu sebagai gereja ,keluarga Kristen kita juga terpanggil untuk membantu dan menolong mereka yang menderita dan bergumul tentang kemiskinan dan kemelaratan hidup. Panggilan pelayanan kita adalah berdoa dan berdiakonia. Kita juga hendaknya membangun hubungan/relasi yang baik dengan sesama, terlebih bagi orang yang miskin dan yang menjadi korban karena ulah orang lain/sesama. Amin.

Doa: Ya Tuhan yang maha kasih dan pemurah anugerah-kanlah berkat bagi orang miskin dan yang kekurangan makanan. Mampukalah kami untuk menolong orang lain. Amin.



Source| RHK Sinode GMIM 2017

Kesetiakawanan Sosial; Tema Mingguan MTPJ 14 - 20 Mei 2017

goinspirit-mtpj

TEMA BULANAN :
“Persembahan Yang Menghidupkan”

TEMA MINGGUAN :
“Kesetiakawanan Sosial”

Bahan Alkitab : Nehemia 5:1-13

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Manusia adalah mahkluk sosial artinya manusia hidup berdam-pingan, bergaul dan bersosialisasi dengan sesama/orang lain. Manusia mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan sifat, karakter, sikap, cara pandang dan lain-lain. Di tengah kemajuan dan perkembangan dunia sekarang ini manusia makin berkompetisi/bersaing satu sama lain. Dampaknya sifat indivi-dualis/egois semakin terasa. Manusia sibuk dengan urusannya sendiri sehingga rasa peduli simpati dan empati dengan sesama semakin memudar malahan praktek mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain bukan lagi sebagai hal yang melanggar hukum dan ketetapan Tuhan tetapi sebagai hal yang lumrah. Yang menarik di sini, justru ditengah situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan ini ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Bahkan makin menjurus kepada keserakahan/tamak, menghalal-kan segala cara, dengan tujuan yang tidak baik. Sifat buruk ini memang sudah nampak sejak manusia jatuh dalam dosa. Karena mau mencari keuntungan dan mau menjadi orang kaya, maka orang lain dikorbankan. Orang serakah sama dengan orang yang mental/moralnya bobrok. Orang seperti itu sulit untuk mengendalikan diri karena perilakunya cenderung berbuat tidak adil, menindas, memeras, melecehkan sesamanya. Akibat-nya ada orang yang menjadi korban dan menderita. Jadi rasa kesetiakawanan soaial atau setia kawan antar sesama harus tetap dipelihara dan ditumbuh kembangkan terus menerus dalam kehidupan manusia. Kesetiakawanan Sosial harus menembus/ melewati perbedaan agama, suku/etnis, status sosial dan budaya. Seperti kata firman Tuhan yang merupakan Hukum Kasih yaitu  “Dan Hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22: 39.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Umat Allah yang dibebaskan dari pembuangan di Babilonia ke Yerusalem (Yehuda) memberi prioritas pada pembangunan Bait Allah. Kemudian membangan kembali/merestorasi tembok-tembok kota Yerusalam yang roboh/runtuh. Nabi Nehemia dipanggil Allah untuk membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem, walaupun ada tantangan. Nehemia sebagai pemim-pin yaitu Bupati Yudea juga mau membenahi pembangunan sosial ekonomi dan keagamaan.

Ternyata keadaan umat Yehuda yang kembali ke Yerusalem tidak memuaskan. Umat Yehuda menghadapi masalah sosial, ekonomi. Terjadi kelaparan dan situasi ekonomi serta sosial yang parah. Semua ini mengakibatkan terganggunya solidaritas sosial di kalangan umat Tuhan. Ada golongan umat yang tidak mempunyai sebidang tanah mengalami kekurangan pangan. Ada juga yang mempunyai tanah tapi telah digadaikan demi mempertahankan hidup. Ada lagi yang dibebani dengan keharusan membayar pajak atau upeti yang tidak ringan kepada Pemerintah Persia yang berkuasa pada waktu itu. Bahkan  praktek perbudakan di antara sesama umat. Dalam situasi dan kondisi yang begitu rumit itu, golongan yang berpunya seperti para pemuka dan penguasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari keuntungan dengan meminjamkan uang dan gandum kepada umat dengan bunga yang tinggi sehingga mereka tertekan dan menderita. Para pemuka dan penguasa tidak lagi memberlakukan hukum Allah terhadap sesamanya yang antara lain berbunyi: “Apabila sudaramu jatuh miskin sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engakau mengambil bunga uang atau ribah dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allah-Mu supaya saudaramu dapat hidup di antaramu (Imamat 25:35, lihat Keluaran. 22:25; Ulangan 23:19-20).

Karena itu Nehemia sangat marah ketika mendengar keluhan terjadinya ketidakadilan ekonomi dan sosial di antara bangsa Yahudi waktu itu. Kemarahan Nehemia ini menunjukkan rasa tanggung jawab, serta kepekaannya yang begitu peduli terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyat jelata. Kemarahan Nehemia ini sangat beralasan. Mengingat telah terjadi pemerasan, pele-cehan dan penjarahan dari para pemuka dan penguasa terha-dap hak milik rakyatnya sendiri di saat dilanda badai kelaparan

Dengan pertimbangan yang matang, Nehemia menggugat para pemuka dan pejabat yang melakukan ketidakadilan atas rakyat, sebangsanya sendiri. Gugatan Nehemia, berbunyi “Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!… Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi yang dijual kepada bangsa lain. Tetapi kamu ini justru menjual saudara-saudaramu…! (ay 7-8). Gugatan ini adalah tanda dari besarnya kepedulian Nehemia terhadap rakyat kecil serta menunjukkan jatidiri dan harga diri bangsa.

Makna dan Implikasi Firman

Manusia adalah ciptaan Allah yang serupa dengan Penciptanya. Karena itu ia harus diperlakukan sesuai dengan citra Allah sehingga mampu mencerminkan kemuliaan Allah.

Terpeliharanya hidup saling mengasihi tolong menolong meru-pakan hal yang sangat mendasar dalam menghadirkan persekutuan yang utuh dan harmonis. Ketika seseorang tidak hidup takut akan Tuhan maka yang akan terjadi adalah manusia menjadi serigala terhadap yang lain yaitu saling mengigit, menerkam tanpa peduli dengan yang lain. Karena itu memberlakukan hukum dan ketetapan Allan adalah bagian yang tidak bisa ditawar-tawar untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila kita mengalami ketidakadilan, penindasan dan peme-rasan pasti ini mengusik rasa kemanusiaan kita selaku orang beriman. Yang berkuasa menindas, memeras dan melecehkan mereka yang lemah serta kecil. Sehingga yang berkuasa makin berkuasa, sebaliknya yang kecil dan yang lemah makin terpuruk, tersisih oleh keserakahan para pemimpinnya.

Tentu menghadapi kenyataan seperti itu kita tidak akan berpangku tangan. Sebagaimana Nehemia menggugat para pemuka dan penguasa saat itu, demikian pula upaya kita menjunjung tinggi harkat serta martabat manusia dalam rangka keadilan dan kebenaran. Kita harus peka mendengar, mem-perhatikan dan menuntaskan setiap keluhan yang ada. Hal ini telah dicontohkan oleh jemaat di Makedonia. Meskipun mereka berada dalam berbagai penderitaan dan kemiskinan, namun kesetiakawanan mereka terhadap orang-orang kudus meluap-luap sehingga mereka ingin membantu (band 2 Korintus 8:1-5).

Hal Ini mengingatkan kita untuk tetap pada ketaatan dan kesetiaan melakukan kesetiakawanan sehingga tidak ada orang yang terabaikan karena Tuhan Yesus, Allah Sang Pembebas, Penebus dan Pemersatu senantiasa peduli dengan umat-Nya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa yang menyebabkan sehingga sebagian umat Tuhan “berteriak” dan mengalami penderitaan ?
  2. Mengapa solidaritas kemanusiaan atau kesetiakawanan sosial sekarang ini semakin merosot/mundur ? Bagaimana cara mengatasinya? 

NAS PEMBIMBING: Galatia 6:2 

POKOK – POKOK  DOA:

  • Pemerasan dan kekerasan
  • Peduli terhadap sesama manusia
  • Membangun kebersamaan

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah: NNBT. No. 6 Allah Bapa Yang Kumuliakan

Ses. Doa Penyembahan: KJ.No.367:5 Nama-Mu Yesus Suci Agung

Pengakuan Dosa: NNBT No.10 Ya Tuhan Yang Kudus

Janji Anugerah Allah: NNBT No.27 Ya Tuhan Engkaulah

Ses.Puji-Pujian: DSL.No.220 Terpuji Nama Tuhanku

Ses.Pembacaan Alkitab: KJ.No.425 Berkumandang Suara Dari Seberang

Ses Pengakuan Iman: KJ.No.381 Yang Mahakasih

Persembahan: KJ.No. 462 Tolong Aku Tuhan

Penutup: KJ.No.448 Alangkah Indahnya.

ATRIBUT:
Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dan salib berwarna kuning.




Source| MTPJ Sinode GMIM 2017

5/13/2017

Diam adalah Emas; RHK Sabtu 13 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Sabtu 13 Mei 2017
Amos 5:13

Kita sering mendengar ungkapan “Silent is Gold”, atau diam adalah emas. Terkadang ungkapan ini memberikan arti seakan kita menyerah, atau pasif terhadap keadaan yang begitu mencekam dan menekan kita, namun sikap diam akan memberikan kita kemampuan untuk lebih memahami pergumulan.

Pembacaan kita hari ini menjelaskan bahwa ketika perbuatan-perbuatan jahat telah menguasai keberadaan sebagian umat waktu itu, ternyata masih ada  sebagian umat yang memiliki akal budi, hikmat dan pengetahuan yang baik dan benar yang dinyatakan melalui sikap berdiam diri. Berdiam diri memberi arti bahwa setiap orang percaya diberikan kemampuan untuk mengontrol segala sesuatu yang ada di dalam dirinya.Tindakan mengontrol ini pertama harus terikat di dalam kontrol kehendak Bapa. Karena kalau orang percaya tidak hidup di dalam kontrol Allah, maka orang percaya akan dikuasai oleh keinginan duniawi yang akan merusak spiritualitas keberimanannya.

Sebagai keluarga kristen, kita diingatkan bahwa dalam menghadapi berbagai pergumulan, permasalahan hidup, maka sikap untuk berdiam diri adalah sikap yang patut dilakukan agar lebih focus pada membangun relasi yang intim dengan Tuhan.  Sikap berdiam diri, juga bukan berarti bahwa kita tidak perduli dengan segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita, atau tidak mau tau dengan berbagai hal yang sedang terjadi di seputar kita, melainkan sebuah sikap hidup yang dilakukan untuk lebih memahami dengan baik dan benar apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Kita akan lebih dapat menemukan makna dari setiap persoalan, pergumulan yang kita hadapi justru dengan sikap berdiam diri. Amin. 

Doa: Bapa di Sorga, beri kami hikmat untuk dapat menguasai diri dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan dan cobaan. Amin.

Source| RHK Sinode GMIM 2017