5/15/2017

Harga Diri; RHK Senin 15 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Senin 15 Mei 2017
Nehemia 5:5

Firman Tuhan yang baru saja kita baca dan dengar sangat memprihatinkan serta menggugah perasaan kita. Pasti membuat kita merinding.  Mengapa? Karena harga diri dan kemanusiaan manusia di injak-injak, hak asazi manusia di lecehkan. Ternyata kepentingan diri atau egois mengorbankan ikatan persaudaraan dan rasa kebangsaan.  Umat menderita lahir batin, sebab walaupun mereka sedarah sedaging/ bersaudara dan satu bangsa tapi perbudakan atau jual beli manusia tidak dapat dihindari. Bahkan anak gadis dibiarkan menjadi milik orang kaya atau yang berkuasa. Mereka menyerah tanpa daya pada keadaan karena kemiskinan, kemelaratan, kekurangan makan. Mereka diperas diperlaku-kan secara tidak manusiawi, karena harta milik mereka berupa ladang dan kebun anggur sudah berada dalam genggaman orang lain yaitu orang-orang kaya dan para penguasa.

Di tengah kemajuan dan di era modernisasi ini, tentu saja praktek/gambaran di atas masih dipraktekkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Penjualan bayi karena kemiskinan yang melanda. Trafiking atau penjualan perempuan terjadi dimana-mana. Sebagai warga gereja dan orang percaya kita diingatkan agar supaya tetap hidup rukun, damai “torang samua basudara.” Ciptakan rasa saling mengasihi, menghormati dan menghargai satu sama lain. Walaupun di antara kita ada perbedaan baik agama, suku, budaya, status sosial, jabatan dan lain-lain.. Amin. 

Doa: Allah yang Mahakasih ampunilah mereka yang menginjak-injak harga diri dan yang melecehkan hak asazi manusia. Mampukanlah kami untuk mengasihi sesama manusia. Amin.  



Source| RHK Sinode GMIM

5/14/2017

Teriakan yang Menggugah; RHK Minggu 14 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Minggu 14 Mei 2017
Nehemia 5:1-4

Orang yang kekurangan makanan dan lapar pasti mengeluh dan berteriak minta tolong. Sebab mereka mengalami penderitaan. Kebanyakan mereka adalah orang miskin dan yang berkurangan. Itulah yang terjadi bagi sebagian umat Tuhan yang baru saja pulang dari pembuangan di Babilonia, mereka menjerit dan mengeluh karena kekurangan makanan. Ada yang menggadaikan  ladang, kebun anggur dan rumah atau harta milik untuk mendapatkan bahan pangan. Ada yang meminjam uang kepada rentenir/pemuka/tokoh masyarakat dan penguasa untuk membajar pajak yang tinggi kepada pemerintah Persia. Mereka bergumul dan menderita. Tentu saja kita merasa prihatin dengan kejadian/kenyataan seperti itu. Di sekitar kita banyak orang miskin  yang menjerit, mengeluh dan berteriak minta tolong di tengah penderitaan karena tertindas dan lapar atau kekurangan makanan. Demikian juga banyak saudara-saudara kita yang karena bencana alam: banjir, tanah longsor, gempa bumi mengeluh dan berteriak karena belum mendapatkan bantuan makanan.

Sebagai gereja, keluarga orang percaya kita harus peka dan prihatin dengan penderitaan saudara dan sesama kita.  Karena itu sebagai gereja ,keluarga Kristen kita juga terpanggil untuk membantu dan menolong mereka yang menderita dan bergumul tentang kemiskinan dan kemelaratan hidup. Panggilan pelayanan kita adalah berdoa dan berdiakonia. Kita juga hendaknya membangun hubungan/relasi yang baik dengan sesama, terlebih bagi orang yang miskin dan yang menjadi korban karena ulah orang lain/sesama. Amin.

Doa: Ya Tuhan yang maha kasih dan pemurah anugerah-kanlah berkat bagi orang miskin dan yang kekurangan makanan. Mampukalah kami untuk menolong orang lain. Amin.



Source| RHK Sinode GMIM 2017

Kesetiakawanan Sosial; Tema Mingguan MTPJ 14 - 20 Mei 2017

goinspirit-mtpj

TEMA BULANAN :
“Persembahan Yang Menghidupkan”

TEMA MINGGUAN :
“Kesetiakawanan Sosial”

Bahan Alkitab : Nehemia 5:1-13

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Manusia adalah mahkluk sosial artinya manusia hidup berdam-pingan, bergaul dan bersosialisasi dengan sesama/orang lain. Manusia mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan sifat, karakter, sikap, cara pandang dan lain-lain. Di tengah kemajuan dan perkembangan dunia sekarang ini manusia makin berkompetisi/bersaing satu sama lain. Dampaknya sifat indivi-dualis/egois semakin terasa. Manusia sibuk dengan urusannya sendiri sehingga rasa peduli simpati dan empati dengan sesama semakin memudar malahan praktek mencari keuntungan di tengah penderitaan orang lain bukan lagi sebagai hal yang melanggar hukum dan ketetapan Tuhan tetapi sebagai hal yang lumrah. Yang menarik di sini, justru ditengah situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan ini ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Bahkan makin menjurus kepada keserakahan/tamak, menghalal-kan segala cara, dengan tujuan yang tidak baik. Sifat buruk ini memang sudah nampak sejak manusia jatuh dalam dosa. Karena mau mencari keuntungan dan mau menjadi orang kaya, maka orang lain dikorbankan. Orang serakah sama dengan orang yang mental/moralnya bobrok. Orang seperti itu sulit untuk mengendalikan diri karena perilakunya cenderung berbuat tidak adil, menindas, memeras, melecehkan sesamanya. Akibat-nya ada orang yang menjadi korban dan menderita. Jadi rasa kesetiakawanan soaial atau setia kawan antar sesama harus tetap dipelihara dan ditumbuh kembangkan terus menerus dalam kehidupan manusia. Kesetiakawanan Sosial harus menembus/ melewati perbedaan agama, suku/etnis, status sosial dan budaya. Seperti kata firman Tuhan yang merupakan Hukum Kasih yaitu  “Dan Hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22: 39.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Umat Allah yang dibebaskan dari pembuangan di Babilonia ke Yerusalem (Yehuda) memberi prioritas pada pembangunan Bait Allah. Kemudian membangan kembali/merestorasi tembok-tembok kota Yerusalam yang roboh/runtuh. Nabi Nehemia dipanggil Allah untuk membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem, walaupun ada tantangan. Nehemia sebagai pemim-pin yaitu Bupati Yudea juga mau membenahi pembangunan sosial ekonomi dan keagamaan.

Ternyata keadaan umat Yehuda yang kembali ke Yerusalem tidak memuaskan. Umat Yehuda menghadapi masalah sosial, ekonomi. Terjadi kelaparan dan situasi ekonomi serta sosial yang parah. Semua ini mengakibatkan terganggunya solidaritas sosial di kalangan umat Tuhan. Ada golongan umat yang tidak mempunyai sebidang tanah mengalami kekurangan pangan. Ada juga yang mempunyai tanah tapi telah digadaikan demi mempertahankan hidup. Ada lagi yang dibebani dengan keharusan membayar pajak atau upeti yang tidak ringan kepada Pemerintah Persia yang berkuasa pada waktu itu. Bahkan  praktek perbudakan di antara sesama umat. Dalam situasi dan kondisi yang begitu rumit itu, golongan yang berpunya seperti para pemuka dan penguasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari keuntungan dengan meminjamkan uang dan gandum kepada umat dengan bunga yang tinggi sehingga mereka tertekan dan menderita. Para pemuka dan penguasa tidak lagi memberlakukan hukum Allah terhadap sesamanya yang antara lain berbunyi: “Apabila sudaramu jatuh miskin sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engakau mengambil bunga uang atau ribah dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allah-Mu supaya saudaramu dapat hidup di antaramu (Imamat 25:35, lihat Keluaran. 22:25; Ulangan 23:19-20).

Karena itu Nehemia sangat marah ketika mendengar keluhan terjadinya ketidakadilan ekonomi dan sosial di antara bangsa Yahudi waktu itu. Kemarahan Nehemia ini menunjukkan rasa tanggung jawab, serta kepekaannya yang begitu peduli terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyat jelata. Kemarahan Nehemia ini sangat beralasan. Mengingat telah terjadi pemerasan, pele-cehan dan penjarahan dari para pemuka dan penguasa terha-dap hak milik rakyatnya sendiri di saat dilanda badai kelaparan

Dengan pertimbangan yang matang, Nehemia menggugat para pemuka dan pejabat yang melakukan ketidakadilan atas rakyat, sebangsanya sendiri. Gugatan Nehemia, berbunyi “Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!… Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi yang dijual kepada bangsa lain. Tetapi kamu ini justru menjual saudara-saudaramu…! (ay 7-8). Gugatan ini adalah tanda dari besarnya kepedulian Nehemia terhadap rakyat kecil serta menunjukkan jatidiri dan harga diri bangsa.

Makna dan Implikasi Firman

Manusia adalah ciptaan Allah yang serupa dengan Penciptanya. Karena itu ia harus diperlakukan sesuai dengan citra Allah sehingga mampu mencerminkan kemuliaan Allah.

Terpeliharanya hidup saling mengasihi tolong menolong meru-pakan hal yang sangat mendasar dalam menghadirkan persekutuan yang utuh dan harmonis. Ketika seseorang tidak hidup takut akan Tuhan maka yang akan terjadi adalah manusia menjadi serigala terhadap yang lain yaitu saling mengigit, menerkam tanpa peduli dengan yang lain. Karena itu memberlakukan hukum dan ketetapan Allan adalah bagian yang tidak bisa ditawar-tawar untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila kita mengalami ketidakadilan, penindasan dan peme-rasan pasti ini mengusik rasa kemanusiaan kita selaku orang beriman. Yang berkuasa menindas, memeras dan melecehkan mereka yang lemah serta kecil. Sehingga yang berkuasa makin berkuasa, sebaliknya yang kecil dan yang lemah makin terpuruk, tersisih oleh keserakahan para pemimpinnya.

Tentu menghadapi kenyataan seperti itu kita tidak akan berpangku tangan. Sebagaimana Nehemia menggugat para pemuka dan penguasa saat itu, demikian pula upaya kita menjunjung tinggi harkat serta martabat manusia dalam rangka keadilan dan kebenaran. Kita harus peka mendengar, mem-perhatikan dan menuntaskan setiap keluhan yang ada. Hal ini telah dicontohkan oleh jemaat di Makedonia. Meskipun mereka berada dalam berbagai penderitaan dan kemiskinan, namun kesetiakawanan mereka terhadap orang-orang kudus meluap-luap sehingga mereka ingin membantu (band 2 Korintus 8:1-5).

Hal Ini mengingatkan kita untuk tetap pada ketaatan dan kesetiaan melakukan kesetiakawanan sehingga tidak ada orang yang terabaikan karena Tuhan Yesus, Allah Sang Pembebas, Penebus dan Pemersatu senantiasa peduli dengan umat-Nya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Apa yang menyebabkan sehingga sebagian umat Tuhan “berteriak” dan mengalami penderitaan ?
  2. Mengapa solidaritas kemanusiaan atau kesetiakawanan sosial sekarang ini semakin merosot/mundur ? Bagaimana cara mengatasinya? 

NAS PEMBIMBING: Galatia 6:2 

POKOK – POKOK  DOA:

  • Pemerasan dan kekerasan
  • Peduli terhadap sesama manusia
  • Membangun kebersamaan

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah: NNBT. No. 6 Allah Bapa Yang Kumuliakan

Ses. Doa Penyembahan: KJ.No.367:5 Nama-Mu Yesus Suci Agung

Pengakuan Dosa: NNBT No.10 Ya Tuhan Yang Kudus

Janji Anugerah Allah: NNBT No.27 Ya Tuhan Engkaulah

Ses.Puji-Pujian: DSL.No.220 Terpuji Nama Tuhanku

Ses.Pembacaan Alkitab: KJ.No.425 Berkumandang Suara Dari Seberang

Ses Pengakuan Iman: KJ.No.381 Yang Mahakasih

Persembahan: KJ.No. 462 Tolong Aku Tuhan

Penutup: KJ.No.448 Alangkah Indahnya.

ATRIBUT:
Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dan salib berwarna kuning.




Source| MTPJ Sinode GMIM 2017

5/13/2017

Diam adalah Emas; RHK Sabtu 13 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Sabtu 13 Mei 2017
Amos 5:13

Kita sering mendengar ungkapan “Silent is Gold”, atau diam adalah emas. Terkadang ungkapan ini memberikan arti seakan kita menyerah, atau pasif terhadap keadaan yang begitu mencekam dan menekan kita, namun sikap diam akan memberikan kita kemampuan untuk lebih memahami pergumulan.

Pembacaan kita hari ini menjelaskan bahwa ketika perbuatan-perbuatan jahat telah menguasai keberadaan sebagian umat waktu itu, ternyata masih ada  sebagian umat yang memiliki akal budi, hikmat dan pengetahuan yang baik dan benar yang dinyatakan melalui sikap berdiam diri. Berdiam diri memberi arti bahwa setiap orang percaya diberikan kemampuan untuk mengontrol segala sesuatu yang ada di dalam dirinya.Tindakan mengontrol ini pertama harus terikat di dalam kontrol kehendak Bapa. Karena kalau orang percaya tidak hidup di dalam kontrol Allah, maka orang percaya akan dikuasai oleh keinginan duniawi yang akan merusak spiritualitas keberimanannya.

Sebagai keluarga kristen, kita diingatkan bahwa dalam menghadapi berbagai pergumulan, permasalahan hidup, maka sikap untuk berdiam diri adalah sikap yang patut dilakukan agar lebih focus pada membangun relasi yang intim dengan Tuhan.  Sikap berdiam diri, juga bukan berarti bahwa kita tidak perduli dengan segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita, atau tidak mau tau dengan berbagai hal yang sedang terjadi di seputar kita, melainkan sebuah sikap hidup yang dilakukan untuk lebih memahami dengan baik dan benar apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Kita akan lebih dapat menemukan makna dari setiap persoalan, pergumulan yang kita hadapi justru dengan sikap berdiam diri. Amin. 

Doa: Bapa di Sorga, beri kami hikmat untuk dapat menguasai diri dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan dan cobaan. Amin.

Source| RHK Sinode GMIM 2017

5/12/2017

Menolak Praktek Suap; RHK Jumat 12 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Jumat 12 Mei 2017
Amos 5:12

Praktek suap adalah perilaku menyimpang yang merusak ethos kerja dan kualitas kerja, terlebih merusak kehidupan spiritualitas. Praktek suap bisa terjadi di semua lini kehidupan, mulai dari keluarga, jemaat dan masyarakat. Praktek suap sepertinya menjadi sebuah profesi atau pekerjaan tambahan yang begitu asik dilakukan demi kepentingan tertentu, baik oleh pemberi suap maupun penerima suap. Nabi Amos sangat marah dan mengecam serta menolak praktek suap. Oleh karena praktek suap itu  mendatangkan penderitaan bagi orang miskin. Praktek suap membuat orang hanya untuk memperkaya diri, tidak perduli kepada orang lain, merampas hak orang lain, menciptakan kehidupan yang serakah, dan tidak akan pernah puas dengan apa yang dimiliki. Selain itu pula, nabi Amos mengecam perbuatan jahat yang dilakukan terhadap orang benar dan ketidak adilan kepada orang miskin.

Belajar dari bacaan kita hari ini marilah kita menjadi keluarga Kristen yang cerdas dalam hal melakukan praktek-praktek kejujuran, keadilan dan kebenaran. Menjadi sebuah komunitas yang mampu membangun pendidikan tentang sebuah kehidupan kejujuran, keadilan dan kebenaran sehingga akan terhindar dari berbagai tindak kejahatan, perbuatan dosa yang hanya membawa kepada kehancuran hidup, baik dalam keluarga, bahkan dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat. 

Marilah kita mendidik dan membina keluarga kita untuk hidup dalam syukur kepada Allah, menikmati anugerah-Nya dengan penuh rasa tanggung jawab dan selalu bertindak jujur, adil dan benar sebagai cerminan identitas keluarga Allah. Amin. 

Doa: Ya Tuhan, ajar kami untuk menolak segala bentuk praktek suap, ketidak benaran, dan ketidak adilan. Mampukan keluarga kami untuk terus menciptakan kehidupan yang jujur, benar dan adil. Amin.


Source| RHK Sinode GMIM 2017

5/11/2017

Kebahagiaan Semu; RHK Kamis 11 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Kamis 11 Mei 2017
Amos 5:11

Untuk merenungkan keadilan yang diidentikan dengan penggunaan kekuasaan, kita benar-benar harus memiliki pemahaman bahwa kekuasaan Allah jauh lebih besar dari pada kekuasaan-kekuasaan yang lain sehingga kalau orang percaya diberikan tanggung jawab melalui jabatan kekuasaan hal ini seharusnya dipandang sebagai  anugerah Allah yang Mahakuasa untuk dijadikan sebagai kesempatan melakukan keadilan terutama kepada mereka yang miskin dan yang membutuhkan pertolongan.

Namun ironisnya, kehidupan saat ini mempertotonkan para penguasa yang berlaku curang, tidak adil, mementingkan diri sendiri, serakah, bahkan terus menyengsarakan mereka yang disebut miskin, orang lemah dan yang membutuhkan pertolongan. Sebagian besar para pejabat dan penguasa dunia, pemerintah, bahkan gereja terkadang menutup mata, bersikap acuh tak acuh terhadap masalah-masalah yang ada di sekitar.

Nabi Amos,  mau menyatakan bahwa orang-orang yang berlaku kejam, bengis, curang, dan mencari keuntungan terhadap orang yang lemah dan miskin, kehidupan mereka tidak akan pernah menikmati kesukacitaan dan kebahagiaan. Sepanjang umurnya mereka boleh kelihatan ada dalam kebahagiaan, kesenangan karena harta dan jabatan dunia, tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menderita.  Mereka boleh saja menikmati kesenangan dengan memuaskan hasrat dan keinginan duniawi, namun sesungguhnya mereka sedang dikejar oleh kesalahan dan dosa-dosa mereka sendiri.

Sebagai  keluarga Kristen, janganlah kita menghalalkan segala cara untuk meraih kebahagiaan. Amin.

Doa: Ya Tuhan, jauhkan keluarga kami dari tindakan yang mehalalkan segala cara untuk meraih kebahagiaan Amin.



Source| RHK Sinode GMIM 2017

5/10/2017

Jangan Membenci Teguran; RHK Rabu 10 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Rabu 10 Mei 2017
Amos 5:10

Bacaan kita hari ini adalah kritikan nabi Amos kepada orang-orang yang merasa diri benar dan dianggap diri benar oleh masyarakat pada waktu itu. Karena status hidup secara politis, ekonomi dan keagamaan. Menurut nabi Amos praktek hidup yang demikian tidak mendatangkan keadilan dan kebenaran Allah. Sebab jika teguran yang baik dan perkataan-perkataan tulus untuk memperbaiki perilaku hidup yang tidak adil dan tidak benar sudah dianggap sebagai sesuatu yang membatasi ruang gerak, maka kehidupan semakin tidak terkendali dan kebencian terhadap mereka yang memberikan teguran akan semakin kuat mempengaruhi jiwa. Pada hal teguran dan perkataan tulus sebagaimana yang dimaksudkan di sini adalah sebuah tindakan kepedulian tetapi juga keprihatinan untuk menyatakan kasih.

Di zaman modern ini, kita lebih banyak terkalahkan dengan egoisme (kepentingan diri sendiri) yang berusaha untuk menjadikan kita lebih terlihat menguasai dan lebih hebat (suka mengalahkan yang lain).  Kita menjadi orang yang angkuh, sombong dengan apa yang kita miliki (materi/harta, jabatan/takhta, kedudukan) sehingga kalau ada orang yang menegur, menasihati bahkan memberi saran, kita tidak peduli,kita marah kita benci, bahkan kadang-kadang kita berusaha merencanakan cara untuk mematikan hidup orang-orang yang bertindak adil dan benar. Hal ini menjadikan kita terlihat seperti binatang, yang bertindak buas untuk menerkam sesama demi menjaga eksistensi (keberadaan) kita.

Setiap anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing, termasuk di dalamnya siap menegur, ditegur, memberikan kritikan dan saran kepada siapapun yang melakukan kesalahan dan tidak untuk membecinya atau mempersalahkan teguran orang lain.Orang bijak semisal Raja Salomo pernah berkata:”orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak.” (Amsal 15:31).Amin.

Doa: Ya Tuhan ajarlah kami untuk tidak membenci teguran yang mendatangkan keadilan dan kebenaran. Amin.


Source| RHK Sinode GMIM 2017

5/09/2017

Ketidakadilan Mendatangkan Kebinasaan; RHK Selasa 9 Mei 2017

goinspirit-renungan harian keluarga

RHK Selasa 9 Mei 2017
Amos 5:9

Sekuat-kuatnya kita bersembunyi dibalik topeng ketidak-adilan hal itu jauh lebih lemah dibandingkan selemah-lemahnya kita berada dalam tindakan keadilan. Artinya kekuatan kita melakukan ketidakadilan, jauh lebih buruk dibandingkan dengan kita menikmati penderitaan karena melakukan keadilan.

Allah kita adalah Allah yang berkuasa memperhatikan tingkah laku, pikiran, dan perkataan setiap umat Tuhan. Dia, Allah yang selalu bertindak terhadap orang-orang yang melakukan tindakan ketidakadilan. Keadilam Allah nyata ketika Allah membinasakan orang-orang yang berlaku tidak adil. Keadilan Allah adalah perbuatan-Nya yang mendatangkan kehancuran bagi mereka yang melakukan ketidakadilan bagi sesama dan lingkungannya. Bagi siapapun yang merancangkan ketidakadilan, maka ia pula yang akan menuai kebinasaan sebagai konsekuensinya.

Bacaan hari ini menegaskan bahwa Allah selalu melihat perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Jika manusia berbuat yang benar, ia diberkati Allah, tetapi sebaliknya ketika ia berbuat dosa (bertindak tidak adil) terhadap sesama dan lingkungannya, maka Allah tidak segan-segan akan menghukumnya. Firman Tuhan hari ini mengajar kita semua sebagai keluarga,   untuk tidak pernah melakukan hal yang tidak benar, agar supaya Allah tidak menghukum kita. Setiap orang diajar untuk berlaku adil terhadap anggota keluarga yang lainnya, tetapi juga berlaku adil terhadap lingkungannya. Perbuatan adil itulah yang mendatangkan sukacita, damai sejahtera dan bukan kebinasaan. Amin. 

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tidak melakukan berbagai bentuk ketidakadilan dan bimbinglah hati dan pikiran kami oleh Roh-Mu yang kudus agar kami terus melakukan hal yang adil dan benar supaya kami tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang layak dalam hadirat-Mu. Amin.



Source| RHK Sinode GMIM 2017